Translate

Sunday, 27 March 2016

PENYESALAN

PENYESALAN
Nama ku Riska Andini Putri, aku adalah anak tunggal dari keluarga ternama di daerah Jakarta. Herjuno Ali, papaku adalah pimpinan perusaahaan tekstil ternama di Jakarta, sedangkan Mita Larasati, Mama adalah pemilik butik terkenal di Jakarta. Sekarang, aku berumur 17 tahun. Banyak orang bilang, kalau 17 tahun adalah umur terindah bagi seseorang. Aku pun berharap begitu. Lets see.
Aku duduk di bangku sma swasta ternama di Jakarta, aku tidak pernah sendiri, selalu ada teman-teman ku disampingku, teman-teman. Setiap pulang sekolah, pak juno –sopir rumah- selalu menjemputku on time, tidak pernah telat sedikitpun. Terkadang, teman-teman ku saat jam pulang sekolah tiba, mereka mengunjungi rumah ku. Hanya untuk membuatku tertawa, dan melupakan masalah. Di rumah biasanya aku hanya bersama bi minah –pembantu rumah- dan pak jono. Mama dan papa selalu sibuk dalam dunia kerja mereka. Biasanya, mama dan papa pulang kerja malam hari. Papa selalu pulang tengah malam beberapa hari ini, karna jadwal meeting yang padat. Sedangkan mama selalu pulang ketika maghrib tiba. Terkadang, aku hanya bertemu mereka saat pagi hari, sarapan. Itu pun papa dan mama selalu terburu-buru saat sarapan. Aku selalu seperti ini semenjak aku menginjak bangku sekolah menengah pertama (smp), menurut mama dan papa saat aku duduk dibangku smp, aku sudah dewasa dan bisa mandiri. Aku selalu diantar jempu pak jono, kemanapun aku ingin pergi.
Di sekolah, aku termasuk siswi berprestasi, karna aku selalu mendapatkan peringkat 1 di kelas. Like i said before, aku mempunya teman dekat di sekolah, mereka adalah Lusi, Eci, Clara, dan Meika. Kami selalu bersama semenjak smp. Rumah mereka pun tidak jauh dari rumahku, masih satu komplek hanya berbeda blok saja. Aku di blok A1, sedangkan Lusi di blok B1, dan Eci blok B2, dan Clara serta Meika di blok C3. Clara dan Meika adalah saudara seperpupan, jadi mereka tinggal 1 atap.

Suatu hari di sekolah....
“Sial susah banget ini, aku gak tau lagi” ucap Clara saat dia sedang mengerjakan fisika, “lo tau gak nih, ris?”. “santai claar, everything will be okay in the end haha” ucap Riska dengan santai. “elo sih bisa lah gua? Ketawa dulu deh gua” Meika pun ikut berbicara. Tak lama saat kita sedang tertawa, handphone ku berbunyi dengan nama pak jono, dalam hati aku berkata, tumben pak jono nelfon jam segini, ini kan belum pulang sekolah. Hmm, dengan perasaan ragu aku pun mengangkat telefon ku dengan hati-hati “iya pak? Ada apa? Saya belum pulang sekolah” ucapku. “den den dimana? Bapak sudah di depan sekolah den, ayo kita pulang den.” Ucap pak jon dengan tergesa-gesa. “ loh kok pulang pak? Saya belum pulang sekolah, ini juga lagi ngerjain tugas fisika pak di kumpul hari ini.” Ucapku dengan menggerak-gerakaan pulpen ditangan. “tapi kita harus pulang den, ayo den” ucap pak jono. “tapi pak, pokoknya saya gak mau pulang kalau bapak belum ngasih penjelasan secara clear kenapa bapak nelfon siang bolong gini, kan saya pulang kuliah jam 4 sore, lagian tadi kan saya udah bilang ada rapat osis, jadi kemungkinana pulang jam 5. Saya udah bilang mama sama papa kok pak waktu sarapan tadi, duah bilang bi minah juga. Udah bilang pak jono juga kan? Ada apa sih pak?” omel ku dengan bapak yang sudah selalu bersama ku selama 5 tahun belakangan ini. “den kita harus pulang, ayo den. Bapak sudah di depan gerbang, sudah turun dari mobil. Kalau den tidak mau ikut dengan bapak, den akan menyesal” elak pak jono.

Apakah yang terjadi dengan rumah?
Akankah Riska mengikuti ajakan pak Jono?


-BERSAMBUNG-



by : Maldina / Divisi Litbang



Rahasia Ayah.

Rahasia Ayah.
Nurul Citra H / divisi litbang / pendidikan Matematika

Matahari sangat terik saat itu tiada awan yang menghalangi sinar sang mentari. Tiada anginpun yang melindungi Ramzi dalam menyelesaikan tugasnya hari ini, Ramzi adalah seorang pemuda yang menjadi takmir masjid di kampungnya, terlihat keringat yang mulai bermunculan sembari iya menyelesaikan pekerjaannya menyapu halaman. ia berasal dari orang yang kurang mampu, Ibunya telah meninggal ketika Ramzi berusia 10 tahun, sebenarnya ibunya dapat disembuhkan tetapi karna kekurangan biaya ibunya tidak dapat dioperasi karena penyakit Tumor yang di deritanya. Sejak saat itu ayah Ramzi menjadi pemurung, dan ayah Ramzi pergi tampa kabar meninggalkan Ramzi sendirian beruntung ada seorang ustadz Ridwan, seorang pemuka agama yang ada di kampungnya, ustadz Ridwan mengajak Ramzi untuk tinggal bersamanya keluarga ustadsz Ridwan. Keluarga ustadz Ridwan adalah keluarga yang religius, meskipun mereka bukanlah orang yang kaya secara materi tetapi mereka kaya secara spiritual dan taat akan beragama, dan mungkin karna itu juga Ramzi banyak pembejaran agama secara tidak langsung, dan pengetahuan Ramzi tentang agama tidak di ragukan lagi.
Setelah 12 tahun ayahnya tidak memberikan kabar,Ramzi telah mengiranya telat meninggal dan selama itu juga Ramzi dirawat oleh ustadz Ridwan. Pagi ini begitu cerah dari hari biasanya sang mentari bersinar dengan gagahnya, dari kejauhan tampak sesosok orag yang dikelal oleh Ramzi, seorang yang memeluknya dulu ketika ia kehilangan permatanya yang pergi meninggalkan untuk selama  - lamanya “ Ayah “ teriak Ramzi. Antara senang dan kecewa beradu dalam hati Ramzi. Disisi lain ia merindukan sosok ini tapi di sisi lain ia kecewa karna tak ada kabar sedikitpun dan dia telah meninggalkannya sendiri.  Tapi kini ayahnya datang dengan perubahan yang cukup signifikan. Dulu ayahnya yang berpakaian lusuh, tidak terlalu religius dan miskin kini berubah menjadi seseorang yang berpakaian layaknya seorang pemuka agama yang Religius, berwibawa dan memiliki materi yang berlimpah. Kedatangan ayahnya kesini untuk menjemput Ramzi untuk ikut bersamanya ke kota sekarang ayah ramzi adalah seorang pemuka agama di kota yang cukup terkenal. Ramzi diajak untuk membantuny dalam melayani jemaatnya. Dan akhirnya Ramzi setuju untuk ikut ayahnya ke kota. Ayahnya akan menjadikan Ramzi sebagai tangan kanannya untuk jemaatnya dan komuntasnya. Ramzipun ikut bersamanya
Sebagai seorang pemuka agama yang terkenal di kota ia memiliki sebuah komunitas sedangkan komunitas ini di beri nama generasi pembeda atau sering di singkat dengan GP. Ayahnya juga dianggap sebagai seorang Wali yang mempunyai karomah tertentu yang berasal dari sang Maha Kuasa. Salah satu keistimewaan yang dianggap dimiliki oleh ayahnya adalah dpat menyembuhkan orang sakit,dapat mendatangkan hujan dan mendoakan orang untuk memiliki seorang untuk memiliki keturunan dan lainnya. hal ini yang membuatnya banyak orang yang mendatanginya baik pejabat maupun orang biasa yang mengharapkan doa darinya dan dapat terkabul.
Ayahnya juga sering menjadi imam di masjid – masjid besar yang ada di sekitaran kota tersebut, tetapi ada yang mengganjal dari pengamatan Ramzi saat ini. Saat di rumah ayahnya sering berlama- lama di suatu ruangan dan tidak seorangpun di perbolehkan masuk kedalamnya termasuk Ramzi yang notabene adalah anaknya sendiri. Karna rasa penasaran yang begitu dalam akhirnya Ramzi memberanikan diri untuk  bertanya kepada ayahnya.
“ Ayah itu ruangan apa,?? Kenapa tak seorangpun di perbolehkan masuk kedalamnya,?” Tanya Ramzi penuh keheranan.
“Ruangan itu adalah tempat ayah untuk bermuhasabah diri tempat ayah untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa “ jawab Ayah.
“ lho bukannya,sebaik- baiknya tempat untuk beribadah adalah masjid ya yah,?? “ tanya Ramzi
“ enggak kalau masjid itu adalah tempat sebatas tempat untuk beribadah saja,” jawab ayah.
Jawaban yang di berikan oleh ayah Ramzi tidak memberikan kepuasaan terhadap Ramzi dan ada keraguan tersendiri oleh Ramzi.
Suatu hari ayah Ramzi di undang oleh organisasi yang ada di kota tersebut  untuk mengisi acara tersebut. Saat itu juga Ramzi memberanikan diri untuk membuka dan masuk ke ruangan tersebut. Dan saat Ramzi masuk ruangan tersebut ada hal yang membuat Ramzi terkejut yaitu adanya berbagai Dokumen yang Ganjal,, satu hal yang membuatnya ragu dan ganjal adalah ketika orang – orang datang kepadanya dan saat itu keinginan orang tersebut terpenuhi. Bahkan orang yang sakitpun dapat sembuh, orang lumpuhpun dapat sembuh, sehingga banyak orang yang percaya dan yakin kepada ayah ramzi, bahkan petinggi- tinggi di kota tersebutpun percaya bahwa ayah Ramzi memiliki karomah tertentu,

Pernah suatu waktu Ramzi bertanya kepada ayahnya berkaitan dengan proses Ayahhnya sehingga bisa seperti ini dan ayahnya bercerita tentang semua hal yang terjadi pasca ibunya meninggal saat itu ia bertemu dengan seorang yang berasal dari Yunani dan ia yang mengajarkan banyak hal berkaitan dengan cara pengobatan yang dilakukannnya. Dan berbagai bacaan yang dilakukannya. Ada yang ganjal. 

Petuah Hati yang Sendiri

“Tidak Vi, cukuplah. Aku mohon kamu jangan tanya-tanya tentang dia lagi.”
“Memangnya kenapa, Re? Bukankah dia sudah jujur tentang perasaannya? “
“Benar apa yang telah kau katakan, dan sedikitpun tak pernah tak ku hargai kejujurannya.”
“Terus apa masalahnya, Re?”
“Vi, kenapa kamu belum paham juga. Kalau dia benar-benar serius dia tak akan bilang seperti itu. Jika dia benar-benar memiliki rasa yang begitu suci maka tak akan mungkin dia mengajakku berjalan menuju kemaksiatan yang semakin mendekatkanku pada neraka.”
“Iya juga ya. Kalau kamu dah ngomong tentang agama, aku angkat tangan deh Re haha.”
“Kamu apaan sih kok gitu. Kan kamu juga tahu syari’at jeng.”
“Terus kamu mau gimana, Re?”
“Masalah jodoh sudah ada yang ngatur Vi. Memang mata ini terkadang iri terhadap hati. Yang tidak bisa melihat sosok yang begitu dekat dengan kita melalui hati kita. Yaitu dia yang tertulis di Lauh Mahfudz.”
“Aduh, so sweet nya, haha.”
“Iya dong,  Allah kan Maha Romantis.”
“Iya deh, yuk makan!”
Begitulah rasa kepo Vira jika kambuh. Apalagi setelah mendengar bahwa ada laki-laki yang telah menyatakan perasaannya kepadaku. Dia selalu saja meledekku. Sudah aku katakan bahwa aku tidak memiliki kata pacaran dalam kamus kehidupanku. Sudah menjadi prinsipku seperti itu adanya. Dan aku juga tidak mau memberikan bekas kepada pangeran yang akan Allah SWT berikan kelak. Sebagai perempuan kan harus menjaga kehormatan juga. Jangan pernah untuk menjadi bunga yang mudah untuk dilihat, dipegang, atau dipetik untuk dimiliki. Jadilah mutiara di dalam kerang yang letaknya di dasar laut. Sehingga untuk memilikinya membutuhkan usaha yang besar. Karena perempuan itu sangat mahal dan berharga seperti halnya mutiara yang indah. Sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan sholekah. Itulah yang serin aku dengar dan aku baca dari medsos. Dan aku begitu senang membacanya.
Vira mulai sibuk dengan kegiatan organisasi yang diikutinya. Memang aku satu organisasi juga dengannya, tapi aku tidak masuk dalam kepanitiaan acara itu. Aku mulai khawatir dengan kesehatan Vira karena dia sering pulang malan dan makannya tidak teratur.
“Vir, kamu tidak apa apa dengan kegiatan kamu yang sedang numpuk ini?”
“Iya Re, aku enggak apa apa kok, tenang aja.”
“Aku Cuma mau ingetin ke kamu kalau makan harus teratur, jangan sampai sakit. Kan kalu sakit nanti kamu sendiri yang rugi karena tidak bisa ikut andil dalam kegiatan.”
“Siap komandan, perintah komandan akan saya kerjakan.”
“E eh, ini serius, jangan bercanda!”
“Iya Rere, aku tahu kok.”
Alhamdulillah, aku bersyukur, acara yang dipanitiai oleh Vira berjalan dengan lancar dan Vira juga sehat. Tapi kini aku mulai cemas dengan keadaan Vira yang sekarang. Karena tanpa adanya kegiatan atau acara organisasi, dia sering pulang malam juga.
“ Ya Allah, apakah pikiranku sudah kelewat tidak wajar? Namun jika tidak seperti itu, kenapa dia berubah? Apa yang sedang terjadi?”
Pikiranku mulai kemana-mana karena memikirkan Vira. Beberapa kali aku lihat dia berjalan dengan seorang laki-laki. Aku mencoba berpikir positif, akan pemandangan yang aku lihat. Namun ternyata itu terlalu memaksaku, karena yang aku lihat adalah Vira berpegangan tangan dengan laki-laki itu. Aku sebagai seorang teman dekatnya begitu malu kepada diriku sendiri jika aku tidak bisa membantu temanku untuk keluar dari hal yang berbau maksiat. Apalagi sebelumnya Vira tidak pernah seperti itu, dia selalu menjaga jaraknya dengan laki-laki. Tapi apa yang yang terjadi sekarang?
“Vir, kamu darimana saja? Kok pulangnya malam banget?”
“O.. ini ta..aa..dii ak..kuu habis ngerjain tugas dengan temanku, Re. Aduh, tugasku lagi numpuk banget nih.”
“Terus udah makan belum tadi?”
“Udah Re, tenang aja. Kamu itu beneran seperti ibuku ya, hahaha.”
“Bukan begitu Vir, aku kan temanmu, sudah menjadi kewajibanku mengingatkan sesuatu yang baik untuk kamu atau mengingatkan apabila yang kamu lakukan itu salah.”
“Memangnya aku melakukan apa, Re?”
“Vir, aku mohon kamu jujur sama aku dan jangan pernah ada yang kamu sembunyikan dari aku, Vir!”
“Re, aku takut kalau aku cerita, kamu akan marah sama aku dan enggak mau berteman lagi sama aku.”
“Astaghfirullah, sama sekali enggak akan terjadi hal seperti itu, Vir. Aku berjanji kepadamu.”
“Sebenarnya, aku juga memiliki rasa pada Mas Rozi yang dulu pernah menyatakan perasaannya pada kamu, Re. Dan entah kenapa setelah dia menyatakan perasaannya padamu, yang kemudian kamu menolaknya dengan caramu yang halus dan penuh perhitungan itu, dia menyatakan perasaan yang sama juga padaku. Awalnya aku kira dia main-main saja, karena aku tahu dia menyukaimu. Mungkin dia butuh seseorang untuk berada di dekatnya atau lebih tepatnya sebagai pelampiasan. Namun aku benar-benar tidak bisa menolak untuk tidak menerimanya. Jujur aku sangat mengaguminya, Re. Jujur, aku tak apa jika kamu menerimanya waktu itu. Aku bahagia jika kamu bahagia.”
“Tapi Vir kenapa aku sampai bisa melihatmu berpengan tangan? Sungguh itu membuat diriku sedih dan malu terhadap diriku sendiri karena tidak bisa mengingatkan kamu.”
“Re, maafkan aku, aku benar-benar tergoda, dengan bisikan setan waktu itu. Dan ternyata Mas Rozi juga tidak memiliki pegangan yang kuat sehingga dia bisa dengan santai memegang tanganku. Aku ingin untuk menolaknya, namun aku merasa tidak enak dan takut dia kecewa, lalu meninggalkanku. Karena waktu itu aku masih benar-benar senang dia bisa menjadi yang istimewa untukku dalam kehidupan nyata ini. Dan sekarang aku kecewa pada diriku sediri. Kerena tangan ini seharusnya dipegang oleh imamku kelak. Aku sudah memberikan tangan bekas pada imamku, Re.”
Vira mulai menangis akan keadaannya yang sekarang. Aku sangat bersyukur karena Vira masih bisa merasa bersalah dan malu atas kesalahannya. Aku senang bukan berarti cemburu, aku benar-benar senang karena aku belum kehilangan sosok teman yang shalekah itu. Dia memang sudah melakukan kesalahan itu, tapi bukankah manusia tempatnya lupa dan salah?
“Vir, aku tidak marah sama sekali kepadamu. Aku hanya tidak ingin kamu terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Aku menolaknya juga karena aku tak ingin diriku atau dirinya jatuh dalam jurang itu. Dia tidak mungkin membawa diriku atau dirimu terjun ke jurang kemaksiatan itu kalau dia benar-benar memiliki rasa yang suci itu. Aku rasa seseorang yang meminta untuk menjalin hubungan yang seperti itu hanya menuruti nafsunya saja. Masih ingat kan, Vir bahwa apabila kita benar-benar mencintai seseorang, maka cintailah karena Allah yaitu dalam diam dan sampaikan rindu itu lewat do’a. Itu lebih so sweet Vir, yakinlah! Walaupun kelak jodoh kita bukan nama yang kita sebut dalam do’a kita, mungkin jodoh kita adalah dia yang sering menyebut nama kita di setiap lantunan do’anya kepada Allah SWT.”
“Iya Re, makasih banyak ya. Aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu. Aku sudah membulatkan tekatku untuk berhenti dengan hubungan ini. Semoga dia bisa mengerti dan aku akan berbicara baik-baik serta akan memberinya beberapa nasihat untuk membuatnya lebih baik. Karena dia juga teman seiman kita kan Re?”
“Iya Vir, semangat, jangan galau lho. Kita harus terus berusaha memperbaiki memantaskan diri, dengan begitu, In Sha Allah dia yang telah ditentukan oleh Allah untuk kita juga sedang memperbaiki diri untuk diri kita kelak.”
“Umt... benar-benar bikin greget Re, kata-katamu.”
“Haha... mau tambah greget lagi, Vir?”
“Boleh-boleh, apa itu?”
“Gini Vir, sebenarnya prinsip jodoh itu sederhana lho, dan semua diawali dengan diri kita. Jika ingin mendapatkan yang baik, maka buatlah diri kita baik pula. Jika ingin mendapatkan yang shalih, maka buatlah diri kita shalikah pula. Dan jika ingin mendapatkan imam yang baik, jadilah makmum yang baik pula. Jangan terlalu sibuk menuntut, namun jadilah yang dituntut teman.”
“Intinya jodoh itu cerminan diri kita ya, Re?”
“Yap.. pas banget.”
“Sip, ustadzah!”
“E eh.. jangan panggil ustadzah dong.”
“Itu kan do’a jeng. Enggak apa apa kali.”
“Tapi mali dan kurang enak gitu. Panggil Rere cantik aja haha.”
“Idih maunya.”

Setelah percakakapan panjang kali lebar kali tinggi malam itu, Vira mulai kembali seperti Vira yang dulu. Alhamdulillah Ya Allah, memang Engkaulah yang Maha Kuasa untuk membolak-balikkan hati manusia. Semoga aku juga bisa menjaga diriku sendiri dan selalu ingat akan perintah-perintahnya. Karena terkadang penyakit lupa kian menjalar ke dalam diri ini. 


by :Hanifah Mumtahanah/Pend. Biologi/ Divisi Litbang

Sunday, 20 March 2016

CERITA SAHABAT

Aku seperti layaknya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Namaku Lia yang bersekolah di SMA suka bunda, walau tak secantik teman – teman lainya, namun akau tetap bersyukur dengan keadaan yang serba berkecukupan ini. Aku mempunyai sahabat dekat sejak kecil dia bernama Caca, Sejak duduk dikelas SD akupun hampir sering sekelas bersamanya, entah itu suatu kebetulan atau memang disengaja. Tapi aku tak memikirkanya karena saat ku kenal denganya serasa aku mendapatkan kecocokan, dari situlah aku selalu bersama – sama, jalan bareng, bermain bareng dan melakukan kegiatan lainya. Dari SD juga aku banyak mendapatkan teman seperti Lala, luna dan tiwi yang juga merupakan sahabat – sahabat terbaikku.

Mulai beranjak ke tingak SMP, aku pun masih bersekolah sama dengan Caca. Begitu banyak cerita suka maupun duka bersamanya dan kami pun memutuskan untuk menjadi sahabat sejati sampai kapanpun. Hari demi hari terlewati dengan indah. Senyum, tawa, canda sedih memberikan suasana diantara perhabatan aku dan Caca. Sampai pada hari dimana aku mulai digosipkan dengan seseorang yang sebenarnya disukai oleh temanku Caca itu. Pada akhirnya berimbas pada persabatanku. Parahnya lagi tiap aku bertemu dengan Caca dan ingin coba menjelasknya, dia tak sedikitpun melihatku, sepertinya tak ingin lagi berdekatan denganku.

Dan masalah ini berlanjut sampai ku memasuki SMA suka bunda. Di sekolah itu hari – hariku mulai sepi, Caca pun tak kunjung memberikan kabar walau masih sama dengan tempat sekolah, sekarang aku tidak lagi duduk sebangku karena berbeda kelas. Satu tahun lamanya masalahku denganya juga belum kelar hingga ku merasakan bahwa penyakit kanker yang dulu mulai kambuh lagi. Mungkin ku kehilangan semangat dan sahabat-sahabat terbaikku, pikirku. Akhirnya ku ijin untuk tidak bersekolah dan merahasiakan penyakit kankerku dan pihak sekolah menyetujuinya.  Hariku dirumah sakit juga tampak sepi, hanya keluarga saja yang setia mendampingiku menikmati hari yang tak seindah dulu.

Dari pembicaraan dokter bahwa ku mendengar hidupku sudah sebentar lagi karena kankernya memasuki stadium 4. “ Bu aku ingin keluar membelikan kado ulang tahun sahabatku besok”, ijinya pada ibu. Lalu ibunya menyetujuinya yang tanpa sengja di toko bunga aku menemui Caca sahabatku.


Seketika itu akan tak sadar dan tiba – tiba aku melihat di sekitarku ada banyak teman dan termasuk sahabat sejatiku Caca. “Ca, ini bunga yang kubeli tadi untuk menghadiahkan padamu saat ulang tahun besok”, ucapku. Caca terlihat menangis dan sedih bahkan nampak kecewa dan berkata “maukah kamu memaafkanku Lia, maukah kau bersahabat lagi denganku?”, “Iya, aku sudah memaafkanmu sejak dulu Ca dan aku tetap dan selalu menjadi sahabatmu”, kataku. Itulah perkataan terakhirku yang pada saat itu juga mataku mulai redup dan tak bisa membukanya lagi, dengan senyuman kini aku bisa pergi untuk selama-lamanya karena ada keluarga, teman dan sahabat-sahabat terbaikku yang ada didekatku.


By : Amira (Pend. Biologi'14)

BROTHER SISTER ZONE

Iya “esti” namanya , kami memiliki kesamaan hobi yakni Fans dari klub maha

dahsyat dari Inggris sebut saja Manchester United. Setiap emyu main aku

sempatkan menghubungi esti dengan alih-alih ingin mengingatkan tapi dibalik

semua itu ada perasaan yang entah itu apa, disetip menghubungi esti rasanya

ingin membahas entah topik apa pun dibahas pokonya jangan sampai kehabisan

topik pembicaraan.

Lama  kelamaan menjadi kebiasaan setiap maalam pasti kita saling mengobrol,

disetiap obrolan itu pasti satu dari kami saling bercanda sehingga tidak sadar

kami mengobrol seelama 120 menit. Entah kapan itu saat asik mengobrol, dia

ngomong kalo aku udah dianggap seperti kakak nya sendiri mendengar kalimat

tersebut bagaikan matahari yang sedang bersinar disiang hari langsung berubah

hujan baadai.

Semenjak tragedi itu aku menyadari ah inikah “brother sister zone” sebuah

keadaan yang sebenarnya bagus juga mendapat saudara tapi kenapa bertolak

belakang dengan yang dirasakan dalam hati, apakah aku tertarik dengan dia atau

aku baper? Heeeeem ......

\Cerita diatas sering terjadi dikalangan Anak Muda yang tipis akan ideologi

hati...



Cerpen karya : Rochmat Purnomo yang biasa dipanggil “Ipunk”  (Pend. Bahasa Indonesia'14)

lucu yah nama panggilan yang melenceng jauh dari nama asli hahaha

Facebook : Bang Ipuk

Yuk follow di Instagram aku @abangpunk

HANYA SEBUAH KADO TITIPAN TUHAN

Pagi seperti biasanya, Putri langkahkan kaki menelusuri lorong lorong koridor sekolah

menapaki jejak menuju kelas. Saat itu hanya ada beberapa siswa yang hilir mudik berjalan

santai menuju kelas masing masing. Terik matahari yang mulai meninggi. Namun, pagi itu

tampak sepi. Langkah Putri yang perlahan berjalan santai agak lambat seakan akan tak

berpijak lagi pada sang bumi. Tibalah Putri dikelas hanya seorang diri lalu segera duduk

dikursinya yang berada di pojok belakang. Matanya agak terlihat sembab, sipit seperti anak

cina. Tanpa kata hanya diam dalam berjuta bahasa. Namun matanya yang berbicara dengan

apa yang telah terjadi, matanya sekali lagi menerawang waktu itu, sebelum terjadi sesuatu

yang membuatnya jadi seperti ini, seperti kehilangan arah untuk hidup, seakan bila awan

mendung yang berada di langit yang memuntahkan air matanya tak lagi menghadirkan

cahaya cerahnya mentari, bahkan di saat air mata langit mulai mereda menetespun tak akan

bisa ditemui lagi pelangi, serta waktu pun mungkin tak terasa berjalan lagi, dan satu hal yang

ingin Putri inginkan hanyalah ingin pergi bersamanya... menyusulnya.... “ huft “ hela nafas

Putri.

Masih jelas memori ingatan seperti apa masa masa indah bersamanya, semua tampak begitu

indah, keceriaan yang menghiasi kebersamaan mereka, dan apabila ada duka yang

menghampiri tetap akan hadir keceriaan lagi. Putra, satu nama yang telah beberapa tahun

belakangan ini mengisi hari hari yang Putri lalui. Tapi seketika ibarat pelangi tertutup kabut

awan kelabu tanpa pernah lagi warna warna itu muncul, semenjak bermula satu minggu lalu

dimana hari itu telah terjadi sesuatu pada Putra kekasihnya, Putra mengalami sebuah

kecelakaan tertabrak bus yang sedang melintasi jalan yang mengakibatkan seketika itu juga

menghembuskan nafas terakhir, pergi berada kealam yang berbeda. Putra telah pergi untuk

selamanya tanpa pernah ada kesempatan untuk kembali.



Tanpa Putri sadari, dua sosok cowok sedari tadi telah memperhatikan Putri, salah satu dari

mereka menghampiri Putri sementara yang satunya masih tetap berdiri memantau dari

kejauhan.

“ hai ! “ sapa cowok misterius menghampiri Putri.

Tersentak dari lamunan, Putri menatap asal suara dan tanpa di sadari, satu sosok cowok telah

berada duduk disampingnya.

“ kamu siapa ? “ mulai berbicara , Tanya Putri yang agak terkejut akan kehadiran cowok itu.

Sambil tersenyum cowok itupun menjawab. “ aku Ricky, kamu tentu sangat mengenalku

Putri. “

Tersentak dari satu sosok yang berada di sebelahnya itu, Putri berusaha mengingat “ siapa dia

? mengapa bisa mengenal ku ? “ Tanya Putri pada dirinya. “ ah entahlah ! “ Putri pun

membuyarkan fikirannya seakan ingatannya buntu untuk mengingat ingat apapun yang ada.

“ aku mengerti perasaan mu, kehilangan itu satu hal yang menyedihkan. “ ucapnya lembut

Putri merasa heran dengan sosok cowok tersebut. Seakan cowok itu tahu semua tentang Putri.

“ Tapi siapa ? “ satu tanda Tanya yang muncul di dalam benak Putri.

“ apa yang harus kamu mengerti tentang aku ? diri ku dan keadaan ku ? “ ucap Putri agak

sinis.

“ karena aku sama seperti mu Putri. Aku pun kehilangan ! “ raut wajah Ricky berubah

muram, Ricky menunduk, Ricky pun mulai bercerita lagi. Sontak membuat Putri menjadi

merasa bersalah atas ucapan yang baru saja Putri lontarkan.

“ aku juga seperti mu Put, aku juga turut merasakan apa yang Ia rasakan, kehilangan..... ! aku

tak bisa mengelak kenyataan. takdir memang terkadang tak seirama dengan apa yang kita

inginkan. Aku tak bermaksud meninggalkannya. Andai dia tahu, aku tak sanggup melihat Ia

menangis. Ingin aku memeluknya, menenangkannya, menghapus kesedihannya dan satu hal

yang aku ingin lakukan. Aku ingin membuat Ia tersenyum. Tapi, hal itu tak bisa tuk aku

lakukan untuknya. Sikapnya seperti kamu saat ini Put, Membuat aku tidak tenang

meninggalkannya pergi jauh ! “ ucap Ricky bercerita menerawang lurus kedepan.

“ kenapa kau harus meninggalkannya, jika kau tak ingin melihat kesedihannya ?. “ Tanya

Putri merasa heran.

“ Put, kau tentu akan mengerti dengan sendirinya maksud dari kata yang baru saja aku

lontarkan. “ nada Ricky yang misterius.

Tampak dari kejauhan satu sosok cowok yang melihat Putri dan Ricky. Ia ingin rasanya pergi

mendekat menghampiri lalu memeluk Putri, ada rasa kesedihan yang memilukan melihat

Putri yang seperti itu. Namun dari luar muncul dua cewek masuk kekelas yang sedang tengah

berbincang bincang satu sama lain. Melihat Putri yang sedang duduk, mereka pun

menghampiri.

“ Putri ! “ sapa Sesil lalu mendekat menghampiri Putri. Sontak Putri pun tersentak dan

memandang mereka.

“ kamu yang sabar ya, gak terasa sudah satu minggu kamu baru masuk ke sekolah. Kami

kangen sama kamu, tau...!. “ ucap Nindi agak centil mencoba menghibur Putri sambil

memeluk sahabatnya itu.

“ gak ada yang kan abadi Put ! meski dia telah tiada, percayalah ! dia pasti gak akan inginkan

orang yang Ia tinggalkan seperti kamu ini Put, murung gak habis habisnya ! masih ada warna

lain dari cinta yaitu kita sahabat kamu. “ Ucap Sesil secara hati hati berusaha menghibur.

“ iya Sob, mungkin aku hanya belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. “ ucap Putri

menenangkan diri.

Teringat Putri akan sosok Ricky. Putri menelusuri sudut pandangnya kesegala arah. Tampak

bingung raut wajahnya mencari cari satu sosok yang beberapa waktu lalu menemani Putri dan

secepat kilat tanpa disadari dengan waktu yang bersamaan datangnya Sesil dan Nindi masuk

kekelas menghampiri Putri. Sosok Ricky telah raib, ditelan bumi hilang entah kemana.

Meninggalkan tanda Tanya yang menggantung.

“ ada apa Put ? apa yang sedang kamu cari ? “ Tanya Sesil agak heran.

“ aku mencari Ricky, Sil ! tadi sebelum kalian berada di sini, dia ada. Kalian ada gak ngeliat

dia pergi ? “ Tanya Putri.

“ Ricky ? siapa dia ? kita hanya bertiga dikelas ini, gak ada yang lain. “ jawab Sesil.

“ ye…….. kamu ini Put, ngelawak ya ? gak lucu deh,,,,, masih pagi tau ! “ celoteh Nindi.

Putri tak menghiraukan ocehan Nindi, Putri malah merasa bingung, heran dan terus berusaha

mencari sosok Ricky yang misterius. Datang secara tiba tiba dan pergi tanpa di duga. Putri

melangkahkan kaki keluar teras kelas dari kejauhan Putri melihat Ricky dan satu sosok

cowok, mereka menoleh kearah Putri dengan memandang tanpa ekspresi. Tak ada tawa

maupun air mata. Tatapan yang tak bisa dijelaskan. Perlahan sosok mereka pergi semakin

menjauh menghilang di lorong lorong kelas.

“ hei ! “ sapa Nindi mengejutkan.

“ oh ya, kenapa ? “ Putri terkejut.

“ masuk yuk, ada sesuatu yang pengen aku sampein nih... “ menarik Putri yang di teras luar

menuju kedalam kelas.

“ Put. “ dengan hati hati kini Nindi berkata. “ dua hari yang lalu, teman yang di bonceng oleh

Putra meninggal setelah koma beberapa hari di rumah sakit akibat kecelakaan itu. “

“ apa ? “

Putri tak mengetahui tentang hal itu, yang Ia tahu hanyalah kekasihnya. Putri shock pada

berita meninggalnya kekasihnya. Semenjak saat itu tak ada lagi yang Putri tahu, Putri hanya

mengurung dirinya di kamar tanpa mengetahui lagi tentang dunia luar. Baru seminggu setelah

kejadiaan itu Putri pun berhenti menyendiri dan hingga tiba saat ini baru Putri melangkahkan

kaki kesekolah.

“ temannya itu sama seperti kamu Put, Ia punya kekasih. Dan seperti sama yang kamu rasa. “

sambung Nindi bercerita lagi.

“ aku gak tau tentang temannya itu Nindi, siapa namanya ? “ tanya Putri masih dalam

berduka

“ seingat aku kiki gitu deh namanya… aku juga kurang tahu banyak sih, tapi ets….. tunggu

bentar ! “ Nindi mengeluarkan hanphone dari saku bajunya lalu mengotak atik dan

memperlihatkan sebuah foto dan menunjuk salah satu dari mereka yang ada didalam foto itu.

“ ini dia “ telunjuk tangan Nindi menunjuk satu sosok yang ada didalam foto tersebut.

Oo..o…,, Putri sontak lagi lagi terkejut, hari yang aneh penuh dengan kejadian yang

membingungkan dengan misteri teka teki penuh tanda Tanya. Foto yang di tunjuk oleh Nindi

tak lain ialah Ricky yang baru beberapa waktu lalu hadir disini menemui Putri. Sosok yang

misterius meninggalkan tanda Tanya di kepala Putri kini sudah terjawab siapa dia. Putri

hanya menahan air mata yang seakan memang telah habis terkuras kering tak berair. Terang

saja, hal ini yang membuat matanya sembab. Keadaan hening walau secara normal suasana

saat itu telah riuh. Tanpa di sadari bel pun telah berbunyi menandakan jam pelajaran pertma

akan segera di mulai.

*****

“ aku juga seperti mu Put, aku juga turut merasakan apa yang Ia rasakan, kehilangan..... ! aku

tak bisa mengelak kenyataan. takdir memang terkadang tak seirama dengan apa yang kita

inginkan. Aku tak bermaksud meninggalkannya. Andai dia tahu, aku tak sanggup melihat Ia

menangis. Ingin aku memeluknya, menenangkannya, menghapus kesedihannya dan satu hal

yang aku ingin lakukan. Aku ingin membuat Ia tersenyum. Tapi, hal itu tak bisa tuk aku

lakukan untuknya. Sikapnya seperti kamu saat ini Put. Membuat aku tidak tenang

meninggalkannya pergi jauh ! “

Ucapan Ricky yang pagi tadi masih terngiang di telinga Putri. Entah mengapa, seakan kata

kata itu menyiratkan punya pesan tersendiri untuk Putri. Putri melihat bintang dari jendela

kamarnya menyendiri terus memandangi langit. “ engkau pasti berada di antara bintang itu,

Putra. “ ucap Putri. Tatapan yang merasakan kesepian. Rasa kehilangan itu sampai detik ini

pun masih terasa. Baru saja Putri bersama sama tertawa namun karena waktu, kini Putra pun

telah tiada.

Malam pun semakin larut. Jam dinding telah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun rasa

kantuk belum juga menyerang mata Putri. Putri masih menatap langit dengan tatapan hampa

terpaku menerawang dimensi lalu saat saat indah bersama Putra sang kekasihnya. Hingga

Putri pun mulai lelah, beranjak menutup jendula. Putri pun merebahkan badannya di kasur

dan mulai berkelana kealam bawah sadarnya.

Saat itu di mimpinya, Putri tengah berada di taman yang indah, tampak sebuah telaga dan ada

sebuah kursi kecil di tepi telaga, tampak satu sosok cowok yang tak asing lagi bagi Putri.

Putri sangat mengenalnya. Ya, itu adalah Putra kekasihnya. Putri pun berlari menghampiri

Putra yang menyambut kedatangan Putri dengan sunyuman. “Sayang.... aku merindukan mu,

aku kesepian tanpa kehadiran mu.” Sapa manja Putri sambil memeluk Putra.

“ sayang, aku juga merindukan mu.” Membalas pelukan Putri.

“ sayang, aku tak ingin melihat kau larut dalam kesedihan, maukah kau berjanji satu hal

untuk aku ? Tanya Putra.

“ apa itu ? “

“ aku ingin kau selalu tersenyum meski tanpa ada aku menemani mu di samping mu sayang ?

berjanjilah pada ku jika kau memang mencintai ku. “ ucap lembut Putra.

“ aku tak bisa Putra, aku tak bisa !. “ air mata Putri perlahan mulai menetes.

“ kamu pasti bisa ! mengertilah tentang hidup. Sadari keadaan ! apa yang ada di dalam hidup

ini hanyalah sebuah titipan, tanpa kita sadari, Tuhan bisa saja mengambilnya. “ kata Putra

lembut menjelaskan.

“ apa ini memang harus aku lakukan Putra ? “

“ iya sayang, tersenyumlah. Aku akan tenang berada diatas sana. Percayalah, aku selalu

mengingatmu. Aku akan merasa sedih jika kau selalu menangis karena kepergian ku. Aku

ingin kamu bisa jadi sosok yang tegar meski tanpa aku. Memang aku tak inginkan adanya

perpisahan di antara kita. Namun, waktulah yang telah memanggil ku sayang…”

Dengan berat hati “ Putra, aku akan mencoba ! .” ucap Putri sambil berusaha menampakkan

senyumannya.

“ aku ingin hati mu rela agar aku bisa tenang sayang. “ kata Putra.

Dari telaga itu, berlabuh sebuah kapal besar entah berasal dari mana. Tampak di atas kapal

terlihat Ricky yang melambaikan tangan kearah Putri dan Putra.

“ sayang aku akan pergi, waktu ku telah menjemput ! ingat pesan ku.”

“ aku ingin ikut bersamamu Putra. Jangan tinggalkan aku,..” rengek Putri.

“ jangan sekarang sayang, percaya yakinkan aku di sana akan selalu menunggu mu.” Putra

kecup kening Putri sebelum beranjak melangkah kan kaki kekapal.

“ sayang, biarkan aku tenang diatas sana tanpa kau usik dengan kesedihan mu karena aku. “

ucap Putra terakhir kalinya.

Kapalpun perlahan menjauh membawa Putra dan Ricky pergi, ada rasa enggan di hati namun

Putra tak bisa berbuat apa apa terhadap keadaan. Ada tampak kesedihan diraut wajah putra.

Sementara itu Putri dari pinggir telaga terus menerus memanggil manggil Putra “ jangan

tinggalkan aku Putra…… jangan ……….! “ terus saja berteriak hingga Putri pun tersadar

terbangun dari mimpinya itu. Tampak sepucuk surat telah tergeletak berada di sampingnya.

Surat yang entah dari mana, Putri pun membuka untuk segera membacanya.

*****

Putri,,,,,

Terus tampakan selalu senyum mu untuk ku………

Ku tak kan ingin air mata mu menetes memancarkan kesedihan karena diri ku…..

Aku memang bukan jodoh mu di dunia ini,

yakinkanlah ada sesuatuu yang lebih indah dari aku di depan sana menunggu untuk mu……..

Aku mungkin bisa pergi meninggalkan mu……

Tapi tidak cinta ku….

Cinta ini akan tetap ada menanti mu di alam sana…..

Forever

Putra

****

Beberapa hari kemudian, Putri tak menampakkan raut wajah yang kusut seperti kaset kusut,

murung tak menentu. Karena satu janji untuk mengenang cintanya. Tak ingin menampakan

kesedihan itu lagi untuk Putra. Biarkan cerita ini mengendap dalam sebuah memori ingatan

yang takkan terlupa menjadi sejarah kenangan indah bahwa dalam hidup Putri pernah ada

Putra. “Senyum ini selalu ku persembahkan untuk mu… abdi ku yang terakhir atas cinta kita.

Aku ingin kau tenang berada di alam sana.”ucap dalam hatinya tulus. Sambil menatap langit

dan tersenyum Putri pun berkata lagi“ Putra, kau kado terindah yang pernah di titipkan Tuhan

untuk ku” dari kejauhan di atas sana Putra membalas senyuman Putri.


By : Winanda Pramesti (Pend. MTK'14)

“Sejujurnya, aku kerap berbicara sendiri, tertawa sendiri dan tersenyum sendiri. Kau tahu? Itu 

sudah jadi kebiasaanku. Apalagi, aku kan tak punya banyak kawan bicara,” begitu jelasku pada 

seorang gadis yang kerap ku panggil Kak Vio.

Aku baru mengenalnya sekitar satu bulan yang lalu. Dia gadis bertipe pendengar. Apapun yang 

aku ceritakan, pasti dia dengan senang hati mendengarnya, meskipun aku belum pernah bertatap 

muka dengannya. Mendengar penjelasanku itu, Kak Vio tertawa dan menganggap aku gila. Aku 

memang sudah tak asing lagi dengan kata gila, jadi aku hanya membalasnya dengan senyuman. 

Tapi, aku sebenarnya tidak gila. Ini nyata. Jika aku tidak punya teman bicara, dan aku merasa 

kesepian, pasti mulutku seketika menyapa seseorang di sampingku dan membahas topik yang 

aneh.

Suatu malam, ketika aku kelaparan, aku meminta bagian makananku kepada Ibu. Naas, makanan 

bagianku sudah dihabiskan oleh pihak lain, sedangkan makanan bagian milik Kakakku masih 

disimpan baik-baik oleh Ibu. Aku seperti hendak menangis, perih betul hati ini rasanya. Aku 

bergegas ke kamar mandi dan menitikkan air mata.

“Alah, tak usah menangislah. Sudah.. Sudah,” tiba-tiba mulutku berkata begitu.

“Tapi, Tuhan. Aku sudah berkali-kali diperlakukan tidak adil. Apa Tuhan tak mengerti?” begitu 

hatiku menjawab.

“Aku tahu. Tapi, apa yang akan kita perbuat selain diam mengalah? Memendam amarah? Itu 

sama saja menambah beban hidupmu. Menyesalinya? Itu sama saja menambah pikiran di 

kepalamu. Ayo, makan saja apa yang ada di meja itu,” begitu mulutku berkata.

Lalu, aku seperti ditarik ke luar dari kamar mandi menuju meja makan dan menyantap perkedel 

yang tersaji di balik tudung saji. Aku masih tak bisa tersenyum. Apalagi melihat Kakakku 

memakan bagiannya yang disimpan aman oleh Ibu. Aku memandangnya sinis. Tapi, aku 

mengingat kata-kata tadi, lalu aku melanjutkan makan malam dengan apa adanya. Selepas aku 

menghabiskan makananku, Ibu menawarkanku.

“Mau ku buatkan sesuatu?”

“Tidak. Sudah terlambat. Lihat. Nasi sudah sampai di perut. Tak ada gunanya. Sudah cukup,” 

begitu jawabku sambil menenteng piring ke tempat cucian, lalu aku bergegas masuk kamar. 

Mengunci diri dan duduk tenang di depan kipas angin yang berputar-putar. Aku diam sejenak. 

Lalu, aku mulai bertanya.

“Kenapa di saat aku sendiri, dan sedang menangis atau banyak masalah, mulutku selalu 

terdorong mengatakan kata-kata penenang? Padahal, aku tak memikirkan sebelumnya dan aku 

tak merencanakannya. Bahkan, ketika aku sendirian dan tak punya teman, aku kerap terdorong 

untuk pergi ke terus rumah di bagian tingkat dan berbicara sendiri di sana? Atau kadang 

menangis sepuas-puasnya di sana? Aku berbicara dengan makhluk tak kasat mata, aku seperti 

orang pemilik indra keenam. Tapi, sungguh semua itu salah. Aku mungkin anak penyendiri. Dan 

aku tahu siapa yang selama ini ku ajak bicara, menyapaku, menenangkanku tadi saat 

ketidakadilan terjadi. Itu Tuhan. Itu bukan makhluk halus. Aku yakin itu Tuhan.” Seketika, 

terukirlah seberkas senyuman di bibirku.

Aku mulai berpikir positif. Aku merasa bangga dengan kebiasaanku berbicara sendiri saat 

suasana sepi. Karena, tak semua orang mau melakukan itu. Mereka menganggap itu gila. Bagiku 

itu anugerah. Sebab, aku bisa berbicara langsung dengan Tuhan. Dia seperti ada dan menguasai 

mulut dan hatiku. Orang lain mungkin dapat berbicara dengan Tuhan lewat doa. Berbeda 

denganku, aku mampu berbicara dengannya yang selalu ada di sampingku dan di tiap langkah 

hidupku.

Atas semua peristiwa yang mendukakan hatiku berangsur-angsur terlupakan, aku tak lagi 

menyesali itu. Mungkin, Sahabatkulah penetralisir ini semua. Tak lagi salah, sahabat terbaik di 

seluruh dunia, baik nyata maupun gaib, hanya Tuhan saja. Tak selamanya manusia ada, tak 

selamanya sahabat setia, tapi selamanya Tuhan ada dan setia di hidupku dan kamu.


By : Pras Tyan (Pend. BI'13)

Ads Inside Post