PENYESALAN
Nama
ku Riska Andini Putri, aku adalah anak tunggal dari keluarga ternama di daerah
Jakarta. Herjuno Ali, papaku adalah pimpinan perusaahaan tekstil ternama di
Jakarta, sedangkan Mita Larasati, Mama adalah pemilik butik terkenal di
Jakarta. Sekarang, aku berumur 17 tahun. Banyak orang bilang, kalau 17 tahun
adalah umur terindah bagi seseorang. Aku pun berharap begitu. Lets see.
Aku
duduk di bangku sma swasta ternama di Jakarta, aku tidak pernah sendiri, selalu
ada teman-teman ku disampingku, teman-teman. Setiap pulang sekolah, pak juno
–sopir rumah- selalu menjemputku on time, tidak pernah telat sedikitpun.
Terkadang, teman-teman ku saat jam pulang sekolah tiba, mereka mengunjungi
rumah ku. Hanya untuk membuatku tertawa, dan melupakan masalah. Di rumah
biasanya aku hanya bersama bi minah –pembantu rumah- dan pak jono. Mama dan
papa selalu sibuk dalam dunia kerja mereka. Biasanya, mama dan papa pulang
kerja malam hari. Papa selalu pulang tengah malam beberapa hari ini, karna
jadwal meeting yang padat. Sedangkan mama selalu pulang ketika maghrib tiba.
Terkadang, aku hanya bertemu mereka saat pagi hari, sarapan. Itu pun papa dan
mama selalu terburu-buru saat sarapan. Aku selalu seperti ini semenjak aku
menginjak bangku sekolah menengah pertama (smp), menurut mama dan papa saat aku
duduk dibangku smp, aku sudah dewasa dan bisa mandiri. Aku selalu diantar jempu
pak jono, kemanapun aku ingin pergi.
Di
sekolah, aku termasuk siswi berprestasi, karna aku selalu mendapatkan peringkat
1 di kelas. Like i said before, aku mempunya teman dekat di sekolah, mereka
adalah Lusi, Eci, Clara, dan Meika. Kami selalu bersama semenjak smp. Rumah
mereka pun tidak jauh dari rumahku, masih satu komplek hanya berbeda blok saja.
Aku di blok A1, sedangkan Lusi di blok B1, dan Eci blok B2, dan Clara serta
Meika di blok C3. Clara dan Meika adalah saudara seperpupan, jadi mereka
tinggal 1 atap.
Suatu
hari di sekolah....
“Sial susah
banget ini, aku gak tau lagi” ucap Clara saat dia sedang mengerjakan fisika,
“lo tau gak nih, ris?”. “santai claar, everything will be okay in the end haha”
ucap Riska dengan santai. “elo sih bisa lah gua? Ketawa dulu deh gua” Meika pun
ikut berbicara. Tak lama saat kita sedang tertawa, handphone ku berbunyi dengan
nama pak jono, dalam hati aku berkata, tumben pak jono nelfon jam segini, ini
kan belum pulang sekolah. Hmm, dengan perasaan ragu aku pun mengangkat telefon
ku dengan hati-hati “iya pak? Ada apa? Saya belum pulang sekolah” ucapku. “den
den dimana? Bapak sudah di depan sekolah den, ayo kita pulang den.” Ucap pak
jon dengan tergesa-gesa. “ loh kok pulang pak? Saya belum pulang sekolah, ini
juga lagi ngerjain tugas fisika pak di kumpul hari ini.” Ucapku dengan
menggerak-gerakaan pulpen ditangan. “tapi kita harus pulang den, ayo den” ucap
pak jono. “tapi pak, pokoknya saya gak mau pulang kalau bapak belum ngasih
penjelasan secara clear kenapa bapak nelfon siang bolong gini, kan saya pulang
kuliah jam 4 sore, lagian tadi kan saya udah bilang ada rapat osis, jadi
kemungkinana pulang jam 5. Saya udah bilang mama sama papa kok pak waktu
sarapan tadi, duah bilang bi minah juga. Udah bilang pak jono juga kan? Ada apa
sih pak?” omel ku dengan bapak yang sudah selalu bersama ku selama 5 tahun
belakangan ini. “den kita harus pulang, ayo den. Bapak sudah di depan gerbang,
sudah turun dari mobil. Kalau den tidak mau ikut dengan bapak, den akan
menyesal” elak pak jono.
Apakah yang
terjadi dengan rumah?
Akankah Riska mengikuti ajakan pak Jono?
Akankah Riska mengikuti ajakan pak Jono?
-BERSAMBUNG-
by : Maldina / Divisi Litbang
No comments:
Post a Comment