KOMPETENSI BERNYANYI
Yuliana Muktiyasning Bekti Saputri / P. Bahasa Indonesia ' 16
Di hutan bernama Dawn
of Land hidup damai semua jenis hewan. Hutan ini amat makmur dan dirajai oleh
Aslan, Sang Singa. Kerajaan
sedang bersuka cita menyambut penerus tahta raja. Hewan-hewan lainpun ikut
bahagia. Untuk menyambut lahirnya sang pangeran, raja membuat kompetisi
bernyanyi. Sebab sang ratu amat menyukai lagu dan nanyian. Ramai-ramai warga
ikut mendaftar sebab hadiah yang ditawarkan raja cukup menarik, yaitu piala dan
kesempatan memberi nama untuk sang pangeran.
Maka segera pengumuman
kompetisi itu tersebar. Banyak dari mereka yang ingin mendapatkan kesempatan
langka itu. “Jika aku yang menang, maka aku akan megusulkan nama Wolfi. Amat
kental sekali nama serigalanya. Ku harap dia sama hebatnya dengan kita untuk
memimpin hutan” bisik-bisik para serigala yang sedang lalu lalang. “Hei, dia
anak Singa bagaimana mungkin kau beri nama anak serigala” jawab serigala yang
lain. “Bukankah itu bagus ?”. Sementara hewan yang lain juga sibuk menyiapkan
nama beserta lagu terbaik mereka. Hutan jadi penuh obrolan perihal nama anak
raja.
“Kenapa kau memilih
manusia sebagai jurinya Rajaku ?” tanya sang Ratu pada suatu sore. Sang Raja
baru saja mengirim surat untuk 4 manusia
yang hendak dijadikan juri. “Itu akan hebat sayang. Pertama kali dalam
sejarah kita mengundang manusia. Lagipula menurutku mereka akan lebih
objektif”. “Tapi apakah mereka mengerti lagu hewan? Mengapa bukan merpati? Atau
tupai. Mereka penyanyi yang hebat bukan ?”. “Mereka bisa saja disuap sayang,
tidak objektif dalam menilai. Bayangkan jika yang ada yang menang karna sogokan
dan memberi nama anak kita dengan nama yang jelek. Sudahlah, jangan jadikan ini
perdebatan kamu tenang saja”. “Lalu dimanakah engkau akan melaksanakan
kompetisi ini? Halaman kastil?”. “Tidak, aku memilih Hall of Brawl. Itu tempat
yang luas, meskipun dulu digunakan untuk pertarungan tapi aku rasa tidak
terlalu menakutkan bila ditata dan didekor ulang”. “Jangan terlalu memaksakan
pikiran dan tenagamu, suruhlah mentrimu yang bekerja”. “Baik”
Sang Raja segera
memanggil Merak, menjelaskan keinginannya dalam dekorasi Hall of Brawl. Merak
mengangguk takzim. Memahami kehendak Rajanya dan segera menjalankannya sebaik
mungkin sebab ia tak mau mengecewakan raja dan warga Dawn of Land. “Baik Raja,
saya paham apa yang anda inginkan. Memang Hall of Brawl nampak menyeramkan,
namun dengan sedikit dekorasi tambahan saya yakin anda akan lupa sedang di
dalam sana”. “Aku percayakan semua kepadamu Merak. Siapkan segalanya sebaik
mungkin. Waktu kita seminggu lagi”. “Baik Yang Mulia. Lantas siapakah yang
hendak menjadi jurinya?” . “4 manusia aku rasa cukup”. “Manusia Tuan? Anda
yakin?”. “Jangan mengajakku berdebat soal ini Merak. Jalankan saja tugasmu”.
“Bbaaiik Yang Mulia. Saya undur diri”. Raja mengangguk, melepas kepergian
mentrinya.
Desas-desus manusia
yang menjadi juri segera tersebar. “Ini luar biasa. Pertama kali aku melihat
raja mengundang manusia untuk menjadi juri. Hebat sekali raja kita” kata Kijang
saat berjalan dengan Gajah dan Buaya.
“Ya kau benar. Belum lagi tempat kompetisi itu. Bayangkan Hall of Brawl amat
mengerikan. Apakah siapapun yang bernyanyi untuk mengkritik raja akan langsung
dibunuh?”. “Jangan bodoh. Raja tidak sekejam itu. Tapi bukankah aneh, ini
perayaan suka cita namun tempat yang dipilih amat angker seperti itu”. “Aku yakin
raja telah memikirkannya matang-matang” Buaya ikut menimpali.
Kompetisipun dimulai.
Seperti yang telah direncanakan, Hall of Brawl menjadi sangat indah. Dipenuhi
sulur-sulur hijau dilangit-langit dengan berbagai macam bunga. Lantainya
dilapisi akar dan jamur-jamur berpendar. Dibagian panggung dibuat megah dengan
latar berwarna emas dan perak. Kursi untuk juri pun amat alami, dibuat dari
bonggol pohon berhias akar dan sulur. Juri manusia datang, nampak takjub sama
seperti warga Dawn of Land. Amat bangga bisa menjadi juri dikompetisi penting
ini. Manusia itu terdiri dari Anak,
Remaja, Dewasa, dan Manula. “Lihat, kelinci itu lucu sekali” kata juri Anak
kepada juri Manula yang menggandengnya. “Ya, dan warga disini nampak antusias
sekali” kata juri Manula sambil memperhatikan sekitar. “Apa yang membuat mereka
amat semangat?” Pertanyaan juri Dewasa namun segera saja suara riuh terdengar
dari dalam Hall of Brawl.
“Selamat datang
seluruh warga Dawn of Land yang saya sayangi. Hormat yang tertinggi untuk Raja
kita Aslan Sang Singa dan Ratu Karina serta sang pangeran kecil. Tidak lupa
pula tamu sekaligus juri kebesaran kita, Para Manusia... Selamat datang”
pembawa acara, Monyet amat bersemangat diiringi tepuk tangan, teriakan dan
suara-suara terompet dari warga. Kebanyakan dari mereka tak sabar mendengar
lagu dari perserta. “Ditangan saya, sudah ada 4 perwakilan hewan yang akan
bersaingi merebut hati Raja, Ratu, para juri dan tentu saja seluruh warga Dawn
of Land. Hadiah yang diberikan pihak kerajaan tak tanggung-tanggung, piala
besar yang dibuat langsung oleh legenda emas di negara kita, Sang Semut. Serta
hadiah spesial kesempatan memberi nama bagi pangeran kecil kita.” Tepuk tangan
riuh terdengar amat ramai dari sebelumnya. “Baiklah, saya persilahkan kepada
Raja Aslan untuk membuka pertandingan secara simbolis dengan memukul gong
kerajaan”. Semua warga diam, menyaksikan raja mereka menuruni tahta menuju gong
emas didepannya. “dong... dong.... dong... dengan ini pertandingan resmi aku
buka.” Sekali lagi tepuk tangan menggetarkan Hall of Brawl.
“Baiklah, peserta
pertama telah siap. Datang dari Barat Daya dengan bulu putih dan halus,
kecepatan larinya tak diragukan lagi, apakah suaranya sebaik kemampuan
berlarinya ? mari kita sambut Kelinciiii....” Sorak-sorak mengiringi naiknya
Kelinci. “Jadi lagu apa yang hendak kau nyanyikan Kelinci?” tanya Monyet. “Aku
hendak menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan anak kelinci khas desa kami.”
Jawab Kelinci dengan yakin. “Itu Kelinci yang ku lihat tadi. Dia amat lucuuuu.”
Komentar juri Anak. “Baiklah, silahkan.” Monyet lalu menuju belakang panggung,
membiarkan panggung seutuhnya untuk Kelinci.
Kelinci-kelinci mari ikut menari,
Disini-disini negeri yang indah ini,
Nyanyikan lagumu jangan bersedih
hati.
Lupakan lah gundaah.....
Mari jadi penjelajah.
Warga Dawn of Land
bertepuk tangan, meniup-niup terompet dan menghentak-hentakkan kaki. Bahkan
sang Ratu ikut bertepuk tangan. “Itu lagu yang indah. Membuat kita merasa
kembali ke masa anak-anak. Baik silahkan dewan juri memberikan nilainya untuk
Kelinci. Nilai dari juri ini lah yang akan menjadi penentuan pemenangnya.
Silahkan dewan juri mengangkat nilai untuk kelinci.” Juri Anak memberikan nilai
9, juri Remaja memberi nilai 7, juri Dewasa dan Manula memberi nilai 8.
“Kelinci mendapatkan nilai 32. Terimakasih juri. Silahkan Kelinci menunggu
pengumuman dibelakang panggung. Langsung saja kita panggilkan kontestan
selanjutnya, Garudaaaaa....” tepuk tangan warga kembali terdengar, bersamaan
munculnya Garuda dengan gagah saat terbang dari balik panggung.
Dengan berbagai cara,
Mari bela negara,
Dawn of Land yang tercinta.
Jangan lah engkau lupa, negara
segalanya.
Wargaku semua, jangan kau diam saja.
Ini negara kita... hidup mati bersama
Selesai lagu dinyanyikan, Garuda turun dengan lantang. Diringi sorak-sorak
tentara negara yang amat hafal dengan lagu yang barusan dinyanyikan. Amat
bangga dengan perjuangan mereka selama ini. Beberapa terharu mengenang
peperangan dulu di Hall of Brawl. “Indah sekali, lagu perjuangan tentara kita,
yang setia menjaga berbatasan negara. Saya yakin lagu ini mengingatkan kita
untuk lebih mencintai negara. Baiklah-baiklah... sekarang dewan juri, angkat
nilai kalian.” Juri Anak memberikan 6, juri Remaja memberi 7, juri Dewasa
memberi nilai 9 dan Manula memberi 8. “Nilai total untuk Garuda 30 poin....
Sementara Kelinci masih memimpin dengan nilai 32. Namun, masih ada 2 penantang
yang akan tampil. Silahkan Garuda untuk menunggu dibelakang panggung. Baik
tanpa berlama-lama, kita sambut Kuciiiingggg.....” Kucing masuk panggung,
dengan membawa penari dibelakangnya. Segera saja suasana berubah yang tadinya
amat haru menjadi gembira.
Warga, apa kamu dengar.
Jeritan hatiku, mengharap kalian
disini.
Warga, hingga kita tua nanti...
Tak akan hilang sayangkuu...
Semua warga ikut
bernyanyi bahkan ada yang ikut menari. Maklum saja, lagu itu sedang terkenal
dan dimana-mana sedang dinyanyikan. “Luar biasa penampilan Kucing. Terimakasih
telah membuat kami semua bergoyang pagi ini. Baik-baik, kita lanjutkan nanti
bergoyangnya. Ada yang lebih penting sekarang.” Kata Monyet memahami
penontonnya yang nampak masih ingin bergoyang. “Saya persilahkan juri untuk
memberi nilai.” Dewan juri mengangkat nilainya. “Ini luar biasa, nampaknya juri
ingin ikut berdoyang... hahaha... semua dewan juri memberi nilai 9, itu artinya
Kucing menggeser Kelinci dalam pertandingan ini. Baik Kucing silahkan istirahat
di belakang panggung.” Tepuk tangan mengiringi mundurnya Kucing.
“Baiklah, peserta yang
terakhir ini dia.... Katak......” Tepuk tangan terdengar disana-sini namun tak
semeriah Kucing. Katak langsung bernyanyi
Lihat tanah yang kau pijak,
Telah memberi petuah bijak,
Bukan seberapa tinggi pangkatnya,
Namun seberapa dia berguna.
Dibandingkan dengan Sang Pemilik
dunia,
Kita
hanya sebesar debu saja.
Lantas mengapa kita lupa ?
Mengagungkan Tuan kita.
Berhenti melantunkan lagu alam,
Yang sudah ada dihati yang terdalam
Hening sejenak,
beberapa rakyat menunduk sebagian malah menangis. Raja dan Ratu nampak menunduk
juga, memeluk anak mereka. Sementara dewan juri kebingungan mengapa para hewan
nampak sedih. Pembawa acara berkata pelan “Baiklah, Aku rasa kalian merasakan
apa yang aku rasakan. Lagu dari Katak telah mengingatkan kita, bahwa kita hanya
debu dan selama ini kita mulai lupa mengagungkan Tuan. Entah apakah yang
dipikir Tuan, yang jelas Dia harusnya tak terlupakan. Aku yakin bahwa semua
rakyat di Dawn of Land mengijinkan Katak untuk memberi nama pangeran kecil
bukan ?” anggukan setuju muncul dari kepala-kepala yang menunduk. “Baik, maaf
dewan juri aku rasa rakyat kami telah memilih Katak sebagai juaranya.” “Hei
tunggu, lagu Katak biasa saja. Aku lebih suka Kucing. Jika kalian telah
memutuskan juaranya, lantas untuk apa kami datang ?” protes juri Remaja. “Maaf Manusia
yang kami hormati, lagu yang barusan dinyanyikan Katak adalah Lagu Alam. Seruan
Tuan kepada kami. Itu lagu istimewa yang selalu kami nyanyikan dulu. Mungkin
ini lah yang tidak kalian pahami.” Ratu Karina yang dengan anggun menjawab
protes juri Remaja. “Entah suka atau tidak, aku memilih Katak sebagai pemberi
nama untuk anakku.” Sambung Sang Ratu sambil membawa anaknya mendekati Katak,
“Silahkan” katanya lagi. Katak memandang sang Pangeran, lantas tersenyum “Jika
Raja, Ratu dan Rakyat semua mengijinkan aku hendak memberinya nama Leon.” Kata
Katak. “Ya itu bagus.” Raja turun dari tahtanya meresmikan nama itu, disambut
sorak-sorak rakyatnya. Sementara juri Manusia tetap kebingungan.
Lalu Katak berkata
dengan lantang, “Manusia yang kami hormati, kami tau kalian pasti tak mengerti
apa yang terjadi. Ya kalian mungkin merasa kalian ini pintar, tapi ketahuilah
bahwa ada kekuatan yang mungkin tak kalian pahami. Kekuatan itu dari alam, yang
menyerap energi negatif kalian dan diubah menjadi energi positif yang seharusnya
kalian manfaatkan. Namun beberapa dari kalian lupa akan hal itu dan memilih
memanfaatkan alam untuk uang. Maka jadilah, sekarang alam sulit menyerap energi
negatif dari kalian.” Para manusia tetap bingung tapi para rakyat sudah tidak
memerdulikan mereka lagi. Sebab Dawn of Land sedang menyambut Pangeran Leon
yang kelak menjadi penerang dikala rakyat sedang buta cahaya.
No comments:
Post a Comment