Translate

Monday, 4 April 2016

CERPEN



TERNYATA
Eka Desma

Tut tut tut ...
Suara dering hpku pun mulai menganggu hidupku, “ lagi-lagi orang ini, menyebalkan sekali” aku menggerutu dalam hati, “pagi siang malem” kayak alarm aja lama-lama.
Sesampai dikelas tiba-tiba dia kembali muncul “kamu  kok nggak balas sms aku sih kenapa?” aku menjawab “apa sih emang penting ya?enggak kan”. Dengan raut muka yang sedih dia keluar dari kelasku. Dia adalah seseorang yang dekat denganku tapi dulu sebelum dia mengubahnya menjadi seperti sekarang dia yang posesif dan mulai mengatur hidupku padahal aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Aku lebih nyaman dengan status itu karena dari situ aku justru bisa lebih dekat dan akrab tanpa ada penghalangnya tapi sejak dia menjadi posesif aku jarang lagi mau nemuin dia apalagi membalas smsnya yang sangat nggak penting itu padahal dia tau kalo akupunya hati sama seseorang yang begitu aku sayangi namun apadaya orang itu sudah punya orang yang special juga terkadang aku merasa ketidakadilan ini buat apa mencintai kalo pada akhirnya kita tidak bisa memiliki.
Tok tok tok..
            Akupun bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang kerumah “hey malem keluar yuk makan malem?” ternyata hasan yang datang orang yang selama ini aku cintai dan malam ini dia ngajak aku keluar omigat bahagianya aku, tiba-tiba terlintas dipikaranku “kenapa aku mau kok mudah banget ya aku mau dia ajak keluar padahal aku telah menunggunya sekian lama” tapi saat itu yang aku tau hanya aku pengen pergi bareng dia dan apadaya aku bergegas ganti baju dan langsung keluar pergi bareng hasan ke sebuah tempat makan, sesamapainya kita langsung berbincang-bincang “dea, sekarang aku jarang liat kamu pergi sama sahabatmu itu, ada apa?” hasan menanyakan hal itu padaku berarti selama ini dia memperhatikanku, “nggak kok nggak ada apa-apa dia aja yang terlalu posesif sama aku jadi aku ngrasa males deket sama dia” dengan raut muka sedih aku menjawabnya terpatah-patah, “sebenere dari dulu aku udah punya rasa juga sama kamu tapi aku liat kamu deket sama dia jadi aku lebih baik menjauh dan mencoba berpaling sama yang lain tapi hati aku nggak pernah bisa berpaling dari kamu” aku langsung melongo denger hasan bilang semuanya ke aku kayak gitu “aku juga selama ini hanya memendamnya san, aku bisa apa pas liat kamu sama yang lain” setelah kejujuran kita ini kita harus apa gimana menghadapi mereka tanya hasan kepadaku.
            Ternyata malam itu sahabatku juga ada disana dan mendengar semua percakapan antara aku dan hasan akhirnya dia memutuskan untuk membiarkan aku dan hasan bersama yang penting aku bahagia, setelah kejadian itu dia mulai menjauh dari hidupku nggak lagi muncul nggak lagi posesif sama aku.
            Akhirnya sekarang aku dan hasan mulai jalan berdua kemana-mana, kedewasaan dia yang membuat aku makin cinta dan percaya, nasehat-nasehatnya dan dia yang selalu percaya dan selalu mengalah itu yang bikin aku betah sama dia sampai saat ini.

OPINI



Mathematics the Queen of Science
Oleh : Nia Pules Math Edu’14 UMS
Taukah kamu matematika itu apa?
Matematika merupakan salah satu dari ilmu pengetahuan. Ia juga merupakan salah satu ilmu eksak atau ilmu pasti. Lebih tepatnya matematika adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan konjektur baru, dan membangun kebenaran melalui metode deduksi yang ketat diturunkan dari aksioma-aksioma dan definisi-definisi yang bersesuaian (dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Matematika ). Ilmu ini menjadi mata pelajaran yang paling ditakuti oleh kebanyakkan siswa. ungkap mereka beberapa siswa karena sulitnya mempelajari rumus rumusnya ditambah pembawaan pendidik yang dianggap keras dan tegas menjadi alasan tersendiri mengapa Matematika menjadi mata pelajaran yang ditakuti kebanyakan siswa. Meskipun banyak yang membenci mata pelajaran ini, tak sedikit mereka yang menggemari matematika. Keberadaan ilmu ini didunia pendidikan dan dunia kehidupan sangat berperan penting. Tak sedikit orang yang mengakui pernyataan tersebut. Hal ini dibuktikan bahwa setiap kejadian dikehidupan sehari – hari selalu melibatkan matematika, misalnya seorang ibu rumah tangga belanja ditoko dalam pembayaran ada proses hitung menghitung. Itu tadi menjadi salah satu contoh peran matematika di kehidupan sehari –hari. Kebanyakan orang menganggap bahwa matematika itu hanya berkeliaran disekitar angka dan dan hanya spesifik dengan perhitungan. Padahal, jika mereka tahu  matematika itu multifungsi dapat diterapkan disegala bidang, segala jurusan, dan segala profesi.
 Seperti halnya dikehidupan sehari hari didunia pendidikan, matematika sangat berperan penting. Bahkan karena materi dan manfaatnya yang mampu diterapkan disegala bidang, matematika mendapatkan predikat yang sangat menakjubkan yaitu “Mathematics the Queen of Science”, pernyataan/predikat itu sangat pantas disandang oleh matematika. Kenapa ? karena pada realita pendidikan di Indonesia semua mata pelajaran disekolah itu selalu dikaitkan dengan konsep matematika entah itu perhitungan ringan maupun berat. Diberbagai jurusan selalu ditemukan matematika entah itu jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Dalam pendidikan di Indonesia Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib untuk ditekuni karena mata pelajaran tersebut menjadi syarat kelulusan siswa. Tak sampai disitu saja alasan mengapa matematika dianggap sebagai ratunya ilmu pengetahuan, dalam realita orang Indonesia kebanyakan dari mereka menganggap seseorang pandai itu dipandang dari kemampuannya terhadap matematika. Jika seseorang siswa pandai mengerjakan soal yang berhubungan dengan matematika kebanyakkan orang menganggap dia siswa yang pandai. Alasannya, karena seseorang yang mampu menyelesaikan permasalahan matematika dia dianggap mampu mengoperasikan pikirannya dan logikanya dengan baik. Selama, jika kita perhatikan ketika penerimaan raport atau pembagian hasil ulangan dari pihak orangtua yang pertama ditanyakan adalah berapa nilai matematika? Itu pertanyaan yang biasa dilontarkan para orangtua saat penerimaan rapot maupun pembagian nilai ulangan. jadi dapat kita simpulkan bahwa matematika itu penting dalam kehidupan sehari-hari tak hanya didunia pendidikan, melainkan dalam kehidupan masyarakat juga penting. Menurut kalimat kalimat diatas, dapat kita pahami bahwasanya predikat “Mathematics the Queen of Science” itu memang benar. “Sesungguhnya matematika itu mudah tergantung bagaimana niat dan tujuan awal kita. Karena pada sesungguhnya didunia ini tidak ada yang sulit, semua tergantung bagaimana cara kita menikmatinya.”
Masih takutkah kamu pada matematika?
Apa yang kau takuti tentang matematika?
Bukankah matematika itu indah?

Sunday, 27 March 2016

“Sejujurnya, aku kerap berbicara sendiri, tertawa sendiri dan tersenyum sendiri. Kau tahu? Itu

sudah jadi kebiasaanku. Apalagi, aku kan tak punya banyak kawan bicara,” begitu jelasku pada

seorang gadis yang kerap ku panggil Kak Vio.

Aku baru mengenalnya sekitar satu bulan yang lalu. Dia gadis bertipe pendengar. Apapun yang

aku ceritakan, pasti dia dengan senang hati mendengarnya, meskipun aku belum pernah bertatap

muka dengannya. Mendengar penjelasanku itu, Kak Vio tertawa dan menganggap aku gila. Aku

memang sudah tak asing lagi dengan kata gila, jadi aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Tapi, aku sebenarnya tidak gila. Ini nyata. Jika aku tidak punya teman bicara, dan aku merasa

kesepian, pasti mulutku seketika menyapa seseorang di sampingku dan membahas topik yang

aneh.

Suatu malam, ketika aku kelaparan, aku meminta bagian makananku kepada Ibu. Naas, makanan

bagianku sudah dihabiskan oleh pihak lain, sedangkan makanan bagian milik Kakakku masih

disimpan baik-baik oleh Ibu. Aku seperti hendak menangis, perih betul hati ini rasanya. Aku

bergegas ke kamar mandi dan menitikkan air mata.

“Alah, tak usah menangislah. Sudah.. Sudah,” tiba-tiba mulutku berkata begitu.

“Tapi, Tuhan. Aku sudah berkali-kali diperlakukan tidak adil. Apa Tuhan tak mengerti?” begitu

hatiku menjawab.

“Aku tahu. Tapi, apa yang akan kita perbuat selain diam mengalah? Memendam amarah? Itu

sama saja menambah beban hidupmu. Menyesalinya? Itu sama saja menambah pikiran di

kepalamu. Ayo, makan saja apa yang ada di meja itu,” begitu mulutku berkata.

Lalu, aku seperti ditarik ke luar dari kamar mandi menuju meja makan dan menyantap perkedel

yang tersaji di balik tudung saji. Aku masih tak bisa tersenyum. Apalagi melihat Kakakku

memakan bagiannya yang disimpan aman oleh Ibu. Aku memandangnya sinis. Tapi, aku

mengingat kata-kata tadi, lalu aku melanjutkan makan malam dengan apa adanya. Selepas aku

menghabiskan makananku, Ibu menawarkanku.

“Mau ku buatkan sesuatu?”

“Tidak. Sudah terlambat. Lihat. Nasi sudah sampai di perut. Tak ada gunanya. Sudah cukup,”

begitu jawabku sambil menenteng piring ke tempat cucian, lalu aku bergegas masuk kamar.

Mengunci diri dan duduk tenang di depan kipas angin yang berputar-putar. Aku diam sejenak.

Lalu, aku mulai bertanya.

“Kenapa di saat aku sendiri, dan sedang menangis atau banyak masalah, mulutku selalu

terdorong mengatakan kata-kata penenang? Padahal, aku tak memikirkan sebelumnya dan aku

tak merencanakannya. Bahkan, ketika aku sendirian dan tak punya teman, aku kerap terdorong

untuk pergi ke terus rumah di bagian tingkat dan berbicara sendiri di sana? Atau kadang

menangis sepuas-puasnya di sana? Aku berbicara dengan makhluk tak kasat mata, aku seperti

orang pemilik indra keenam. Tapi, sungguh semua itu salah. Aku mungkin anak penyendiri. Dan

aku tahu siapa yang selama ini ku ajak bicara, menyapaku, menenangkanku tadi saat

ketidakadilan terjadi. Itu Tuhan. Itu bukan makhluk halus. Aku yakin itu Tuhan.” Seketika,

terukirlah seberkas senyuman di bibirku.

Aku mulai berpikir positif. Aku merasa bangga dengan kebiasaanku berbicara sendiri saat

suasana sepi. Karena, tak semua orang mau melakukan itu. Mereka menganggap itu gila. Bagiku

itu anugerah. Sebab, aku bisa berbicara langsung dengan Tuhan. Dia seperti ada dan menguasai

mulut dan hatiku. Orang lain mungkin dapat berbicara dengan Tuhan lewat doa. Berbeda

denganku, aku mampu berbicara dengannya yang selalu ada di sampingku dan di tiap langkah

hidupku.

Atas semua peristiwa yang mendukakan hatiku berangsur-angsur terlupakan, aku tak lagi

menyesali itu. Mungkin, Sahabatkulah penetralisir ini semua. Tak lagi salah, sahabat terbaik di

seluruh dunia, baik nyata maupun gaib, hanya Tuhan saja. Tak selamanya manusia ada, tak

selamanya sahabat setia, tapi selamanya Tuhan ada dan setia di hidupku dan kamu.

OPINI

Perlukah Program Pengenalan Kreatifitas Mahasiswa (PPKM) dilaksanakan?

Pertama kalinya LPM Figur FKIP UMS melaksanakan workshop Program Pengenalan

Kreatifitas Mahasiswa (PPKM). Tema yang diangkat cukup menarik, yaitu Menanamkan Jiwa Jurnalis

yang Inovatif, Kompeten, dan Profesional. Workshop PPKM ini mendatangkan dua pembicara yang

luar biasa berkompeten di bidangnya, yaitu Ayu Khoirotul Umaroh, S.K.M  selaku pembicara pertama

dan Laili Etika Rahmawati, S.Pd., M.Pd. selaku pembicara kedua. PPKM ini bertujuan untuk

mewadahi ide – ide kreatif seluruh anggota LPM Figur dalam menuangkan ide tersebut di dalam

Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).

Jika dilihat dari keadaan mahasiswa FKIP UMS saat ini, PKM kurang begitu diminati oleh

mahasiswa. Sehingga LPM Figur mempunyai gagasan untuk melaksanakan workshop PPKM, supaya

Sumber Daya Manusia (SDM) yang tertampung di dalam LPM Figur ini dapat menghasilkan karya

mahasiswa yang dituangkan ke dalam PKM. Sehingga, nantinya Figur mempunyai karya PKM yang

dibuat oleh anggota – anggotanya. Menurut saya, acara semacam ini sangat efektif bagi mahasiswa.

Mempunyai dampak yang bagus untuk menampung ide – ide yang dimiliki dan ingin dituliskan di

dalam PKM.

Acara berjalan dengan lancar, walau terdapat sedikit kendala dalam pelaksanaannya.

Namun, untuk keseluruhan sudah baik. Banyak peserta yang antusias dalam mendengarkan

pembicara dalam menyampaikan materi. Hal ini terlihat jelas diakhir penyampaian materi, banyak

peserta yang bertanya. Ini menandakan bahwa mahasiswa cukup tertarik dalam menuliskan aserta

menyalurkan ide – ide yang dimilikinya ke dalam PKM. Sehingga, nantinya diharapkan banyak

mahasiswa LPM Figur untuk mengirimkan PKMnya ke dikti.

Nivia Putri Ratna Juwita (PBI’15)

ARTIKEL/OPINI

Kutub Utara – Kutub Selatan Masa Remaja
Atiqah Nur Farida

Detik pada jam digital itu selalu bergerak maju—ke arah kanan—berputar. Pasir

pada jam pasir selalu berjatuhan ke bawah, tentu bukan ke atas. Karena kehidupan

selalu memakai alur maju, hidup itu tentang masa depan bukan masa lalu. Dan

masa sekarang adalah masa yang bisa di bilang masa paling greget sepanjang

perjalanan hidup. Masa dimana tidak bisa di ulang lagi—bukan berarti masa yang

lain bisa diulang kembali. Masa remaja.

Aneh nggak sih? Sama remaja zaman sekarang yang maniak gadget. Seakan tidak

bisa lepas dari gadget. Rasanya kalau tanpa barang satu itu akan mustahil hidup,

hiperbola. Kemana-mana selalu di bawa, seakan tak merasa nyaman jika jemari

tidak bergemilang diatasanya. Dan lagi, selalu haus akan Socmed (Social Media).

Maksudnya, sedikit-sedikit laporan sama facebook, twitter dan teman-teman kedua

socmed tersebut. Untung saja kedua media itu tidak ‘hidup’ bagaimana bisa makhluk

hidup yang juga pasti punya masalah sendiri harus menampung masalah berjuta

orang. Iya, untungnya socmed itu tidak memberontak.

Tidak cukup sampai disitu, karena dampak dari socmed ini kebanyakan adalah

dampak negatif. Kenyataan yang lagi-lagi pahit adalah, perkataan seseorang di

socmed biasanya akan terkesan jauh lebih berani dan omongan yang tanpa fikir

panjang, juga sedikit tanggung jawabnya dari perkataan tersebut. Bukan hanya

omongan, bisa di lihat. Kebanyakan dari pengguna socmed juga sering mengirim

beberapa file jenis foto. Tak sedikit manusia-manusia yang terlihat berjilbab akan

menghamburkan jilbabnya ketika memasang foto di socmed, miris.

Kembali lagi pada masalah mengeluh. Mengeluh yang berlebih-lebihan, seakan

menjadi manusia yang paling punya masalah besar. Seakan tak ada lagi orang lain

yang mempunyai masalah, seakan hanya dia satu-satunya yang sedang tersakiti.

Atau entahlah yang lainya. Generasi remaja saat ini sungguhlah absurd dengan

gaya yang drama queen dan drama king. Dengan tempat mengadu lagi-lagi di

socmed sudah merasa menjadi yang paling keren, seakan yang tidak mengeluh,

memasang foto ‘hamburkan hijab’ dan tidak berkata buruk di socmed bukan lagi

anak gaul. Jika menjadi gaul adalah dengan seperti itu, bukankah lebih baik tidak

Gaul. Apakah gaul juga bisa di tunjukkan dengan menilai seseorang dengan

seenaknya? Maksudnya dengan hanya melihat tingkah laku seseorang—tanpa tahu

apa yang sebenarnya—terus dengan rasa paling benar menjudge seseorang itu.

Kejadian ini juga biasanya terjadi—lagi-lagi—di socmed. Kalau bisa di gunakan

secara positif kenapa pilih negatifnya?

Gaul. Apa gaul itu dengan tidak percaya dengan diri sendiri? Dengan memilih

percaya dengan orang lain yang belum tentu orang itu percaya pada dirinya sendiri.

Budaya mencontek, susah untuk di hilangkan. Karena kebanyakan siswa terdoktrin

untuk mendapat nilai yang bagus, bukan ilmu yang cukup. Padahal masa depan itu

di tentukan dengan ilmu yang kita dapat selaama ini bukan di tentukan dengan nilai-

nilai yang bertebaran di atas lembar jawab. Jadi, kalau saat ujian itu bukan

tergantung pada siapa pengawasnya tapi pada otak masing-masing ya. Sudah

berapa mampu kita untuk melewati ujian itu.

Kembali lagi ke masa remaja, seharusnya kita bisa mengisinya dengan berbagai hal

yang positif. Apapun itu, asalkan positif pasti akan sangat bermanfaat untuk masa

remaja kita cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Bisa dengan berorganisasi

karena organisasi itu bisa jadi tempat pelarian kita supaya tidak terlalu tertarik dalam

dunia hedonisme atau pun suatu hal yang tidak bermanfaat.

Remaja, remaja itu seharusnya penuh ambisi terhadap masa depan. Percaya

dengan dirinya sendiri. Bisa berkaca akan dirinya sendiri, bisa memilih apa yang

baik dan apa yang harus di tinggalkan. Bisa memilih porsi dalam hal apapun itu

dengan takaran yang pas. Jangan Cuma di genggam gadgetnya, sekali-kali

genggamlah buku, di buka kemudian dibaca. Gadget jangan hanya digunakan untuk

bersocial media, hey, gadget bisa di gunakan untuk media pembelajaran.

Sebenarnya semua yang ada bisa di jadikan pembelajaran dan media untuk mencari

pengalaman, yang penting jangan terlalu cemen dalam menghadapi masalah, selalu

strong dan stay positive. (RF25)

ARTIKEL

MANFAAT KOPI DAN CARA PENGOLAHANNYA
Dyah Handayanimurdiyanto

Di dalam kopi terdapat kandungan zat berupa karbohidrat, glikosida, mineral, asam amino, protein,

kafein, asam alifatik / asam karboksilat, trigoneline, asam klorogenat dan masih banyak yang lainnya.

Selain dapat menyehatkan tubuh, semua kandungan tersebut juga mempunyai kemampuan untuk

menutrisi kulit karena kopi juga mempunyai manfaat untuk kulit.

    Manfaat kopi untuk wajah juga sudah terbukti, karena ada beberapa tempat spa dan salon

perawatan wajah yang telah menggunakan kopi untuk masker wajah. Seperti apa yang dikutip dari

manfaat.com, adapun manfaat yang ditawarkan oleh kopi untuk kulit wajah adalah sebagai berikut :

7 Manfaat Kopi untuk Kulit

Mengatasi Masalah Jerawat

Ampas kopi dapat dijadikan sebagai scrub wajah untuk mengatasi masalah jerawat dengan cara

membuat jerawat lebih cepat kering, sehingga terhindar dari masalah peradangan jerawat.

Menghilangkan Komedo

Selain jerawat, masalah yang sering mampir pada kulit wajah adalah komedo. Komedo terjadi karena

wajah mempunyai kandungan minyak berlebih, wajah berminyak dijadikan sebagai tempat yang

cocok untuk komedo. Untuk mengatasi masalah komedo, bisa dilakukan dengan menggunakan

masker ampas kopi secara teratur.

Menyamarkan Noda Hitam Bekas Jerawat

Baik bubuk kopi maupun ampas kopi, saat dioleskan pada wajah masing-masing mempunyai

kemampuan untuk menyamarkan noda hitam bekas jerawat dan flek-flek hitam. Hal ini disebabkan

karena kopi mempunyai kemampuan untuk menghilangkan sel-sel kulit mati.

Mencerahkan Kulit Wajah

Di dalam kopi terdapat kandungan antioksidan yang berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati

yang menumpuk akibat radikal bebas. Dengan demikian, wajah akan terlihat lebih cerah dan terbebas

dari kulit kusam.

Mengontrol Kandungan Minyak Berlebih

Manfaat kopi selanjutnya yaitu, ketika digunakan sebagai masker wajah secara rutin dapat

mengontrol kandungan minyak berlebih pada wajah sehingga wajah terlihat lebih bersih, bebas kilat

dan terhindar dari jerawat.

Mengecilkan Pori-pori Kulit Wajah

Jika digunakan sebagai masker wajah secara teratur, kopi dapat mengecilkan pori-pori wajah

sehingga dapat membuat kulit terbebas dari masalah jerawat dan komedo. Perlu diketahui, salah satu

penyebab tumbuhnya jerawat dan komedo pada kulit wajah disebabkan oleh pori-pori yang tersumbat

oleh kotoran dan ekskresi lemak yang berlebihan.

Melembabkan dan Menghaluskan Kulit

Kopi yang digunakan sebagai masker wajah dan scrub wajah alami secara teratur dapat membuat

kulit menjadi lebih lembab dan halus.

    Cara pembuatan masker kopi pun mudah untuk dilakukan, caranya cukup gunakan ampas kopi

murni atau ampas kopi yang tidak tercampur dengan gula, kemudian oleskan pada wajah sebagai

masker, lakukan pijatan atau gosokkan lembut pada wajah, diamkan sekitar 20 – 25 menit, lalu

bilaslah menggunakan sabun wajah dan air bersih. Masker kopi juga bisa dibuat dengan cara

mencampurkan ampas kopi murni dengan madu, putih telur atau minyak zaitun.

    Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, gunakan masker wajah atau scrub wajah secara teratur,

maksimal 2 – 3 kali dalam seminggu. Pastikan juga bahwa telah menggunakan kopi asli dan murni,

yaitu bubuk kopi yang tidak tercampur dengan bahan apapun. Pasalnya, untuk memperkecil biaya

produksi ada beberapa produsen yang mencampurkan bahan lainnya seperti serbuk jagung ke dalam

produk kopi yang mereka buat.

    Tips untuk memastikan keamanan dan keaslian kopi, sebaiknya beli biji kopi kemudian sangrailah

sendiri atau memasak dengan wajan tanah liat tanpa menggunakan minyak. Kemudian, haluskan biji

kopi yang sudah disangrai tersebut. Jika sudah mengetahui proses pembuatan bubuk kopi, prmbaca

dapat diketahui keamanan dan keaslian dari bahan yang akan digunakan untuk kulit wajah. Hal ini

disebabkan karena wajah merupakan salah satu aset yang berharga sehingga tidak boleh sembarang

dalam memilih bahan alami, produk kecantikan dan kosmetik yang akan digunakan. Baca

juga Manfaat Kulit Jeruk untuk menurunkan kadar kolesterol.

Referensi :

wajahjerawat.com/manfaat-kopi-untuk-wajah-berjerawat

manfaat.co/manfaat-masker-kopi-untuk-wajah-dan-cara-membuatnya

OPINI

By : Nitya Andini

Musim hujan?

Yang terbayang pasti mendung gelap, rintik hujan, dan becek dimana - mana. Bukan cuma

itu, banjir-pun kerap melanda berbagai daerah di Indonesia. Musim hujan berlangsung cukup


lama, bulan Oktober - April. Bulan - bulan basah tentunya. Kebanyakan orang mungkin

senang hujan datang karena sungai dan irigasi lancar kembali. Namun yang lain?

Menggerutu karena pakaian dan jemurannya tidak mengering karena "langkanya" sinar

matahari dan kondisi jalan yang banjir di depan kampus, menghambat proses perkuliahan

mahasiswa tentunya.

April belum habis, namun matahari bersinar begitu terik, macam musim panas, namun

bukankah April adalah musim hujan?

Ya, siklus iklim global kini telah berganti. Musim Labuh dan Musim Kemaring pun datang

tidak menentu. Petani pun menggerutu, mengapa hujan tak kunjung datang?

Perubahan iklim kini semakin mengkhawatirkan, belum lagi soal Efek Rumah Kaca yang

setiap saat mengintai akibat banyaknya gas Clorofluorcarbon alias CFC yang dilepaskan ke

atmosfer karena penggunaan gas karbon monoksida dan metana di wilayah industri.

How about earth now?

Keadaan bumi semakin memprihatinkan karena kondisi iklim yang makin tidak menentu,

ketinggian permukaan laut yang makin naik, dan banyaknya pulau pulau yang tenggelam.

Kondisi seperti ini seharusnya dapat dihindari ketika manusia memiliki kesadaran dari diri

masing masing tentang lingkungannya. Apabila manusia peduli dengan lingkungan, tentu

kenaikan suhu ekstrem sekian dekade kebelakang dan kenaikan permukaan laut dapat

dihindari.

Kita manusia, sedapat mungkin menjaga kelestarian bumi kita, dan kembali kepada diri

masing - masing untuk merawat dan menjaga bumi, kalau bukan kita, siapa lagi?

Ads Inside Post