Translate

Wednesday, 4 May 2016

PUISI

BUIBU

Seperti bintang yang bersinar terang

Jiwa ini selalu riang

Ketika mengingat merdu suaramu

Ramah sapamu

Seakan membuat hamparan air laut

Mengeluarakan diri dari permukaannya

Aku selalu mengingatmu saat

Bada angin menghampiriku

Mengajakku memainkan debu-debu ke arah mataku

Saat pagi datang selalu kubayangkan

Alunan merdu suaramu

Membuat ayam tertatih-tatih langkahnya

Setelah aku jauh darimu

Langit semakin terasa mendung

Berat rasanya ...

... Aku merindukanmu ... Ibu ..
.

Karya: Adik Nizroah/PBI’14

PUISI

TERSENYUMLAH
oleh :Itsna (Pend. Matematika'13)

Tersenyumlah saja,

Sebab ada saatnya kau harus berpura-pura.

Berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja,

Sebab ada beberapa mata yang tak boleh berair

Ada hati-hati yang berhak kau buat bangga

Ada jiwa-jiwa yang perlu kau jaga,

Ada masa-masa yang harus kau lalui seorang diri,

Lari saja, terus berlari, tak boleh ada yang menyadari

Sebab kau bisa menyimpan resahmu sendiri

Karena sendiri tidak selalu menyedihkan

Bahkan kadang sendiri akan lebih baik

PUISI

Elegi Awan Hitam


Kala mega kelabu tibaBirunya langit tersingkirkan sekejap

Tergantikan gelapnya awan hitam

Mentari seakan lenyap tak berbekas

Menunggu putusan sang mendung

Menunggu ia yang menerangi sisi gelap ini

Kala mega kelabu bergemuruh

Harapan harapan mulai berguguran

Satu persatu elegi tercipta di balik awan hitam

Hingga luka hati kembali terbuka

Sampai nanti ketika hujan meretas duka

Kala awan hitam menyerang

Nyanyian petir bersahutan

Rintik rintik hujan berkejaran

Kilatan putih menyambar

Dan membuatku merenung akan nasibku esok pagi

Akankah mentari masih tersenyum menyambutku?

Atau awan hitam dengan seringai petirnya?

Akankah dia masih menungguku?

Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Menanti sehabis hujan di bulan desember



Oleh : Nitya Andini Pratita

PUISI

Untukmu Ayah

Ayah....

Kau mengajarkanku arti hidup

Kau mengajarkanku bagaimana cara menghargai orang lain

Kau mengajariku tentang kebaikan

Kau mengajariku tentang arti cinta

Ayah..

Kau menjagaku merawatku dengan kasih dan sayang

Ayah....

You my first love :)



(Rafi’ah Rizqi Amalia PG-Paud‘15)

PUISI

ENTAHLAH
Oleh : Muhammad Rais Syakur (PGSD.13)


Biadab....

Inikah negeri yang “katanya” menjujungg tinggi demokrasi?

Jerita rakyat dianggap sampah berceceran

Hak rakyat dibungkam dengan ocehan pejabat negeri

Deklarasi keadilan negeri terus diobral dengan omongan kosong

Pancasila hanya sebatas formalitas ideologi

Jabatan tinggi hanya untuk menggemukan kantong pribadi

Sampah sampah sampahhhhhh....

Korupsi dijadikan budaya yang wajib ia tekuni

Ah entahlah negeriku ini....

PUISI

Dengar Celotehku, Sayang

Oleh : Atiqah Nur Farida, PBI’15


Ada sebait kisah yang kamu beri tahu kepada aku

Berputar enggan untuk diam

Di kepalaku, bagai kereta mainan



Ada ribuan kecewa merasuk dada kemudian

Tapi aku tak tahu, harus katakan apa

Harus berujar pada siapa



Haruskah aku sendiri yang menyimpan ini

Aku tidak tahan

Ingin aku berujar pada rerumputan

Dan mendengar sumpah mereka agar tetap diam, tak bergoyang

Pada siapa saja yang akan menanyainya, mengenai ini



Kamu menganggap dirimu berubah

Tidak, sayang

Kamu tetap yang tersayang

Kamu tetap kamu yang ada di dalam hatiku

Kamu tetap kamu yang selalu menjadi warna daripada hidupku



Kamu tentu tahu, seberapa penting kamu bagi aku

Kamu tentu tahu, aku bisa meradang semalaman

Terngiang olehmu

Bagai kenangan seorang terdahulu yang enggan beranjak



Sayang

Jangan lupa akan siapa kamu

Jangan lupa siapa saja yang berharap pada kamu



Mungkin, di depan nanti akan ada banyak persimpangan lagi

Aku tahu, kamu tentu akan memilih kebenaran

Tapi mungkin, terkadang kamu terjebak dalam gelap

Tak tahu harus bagaimana

Jangan gegabah

Disini, kamu lihat

Aku disini, sayang

Kamu bisa ulurkan tanganmu

Kemudian gamit tanganku

Kita bersama temukan jalan yang benar dari banyak persimpangan yang sialan

PUISI

Mimpi dan Asa

Oleh : Widya Arum Tri Andini / Editor Redaksi


Waktu boleh saja terlewati

Kisah boleh saja padam

Cucuran airmata mungkin tak terelakan

Kaki kian tergoyahkan

Tapi mimpi harus terus berjalan

Karena hidup bukan tentang hari ini saja

Tapi tentang esok..

Lusa..

Nanti...

Dan sepanjang usia

Sampai mata tak lagi melihat bayangan

Sampai mulut terbungkam

Sampai denyut nadi tak berdengarkan

Ya..

Ada mimpi yang harus terpecahkan

Ada asa yang harus menjadi nyata

dan

Ada mereka yang harus dibahagiakan..

Ads Inside Post