Translate

Tuesday, 1 March 2016

Mimpi Bersama yang Belum Terwujud

Tetesan embun yang membasahi di pagi buta. Hawa dinginpun kini masih terasa sampai

ke tulang-tulang. Kondisi tubuh yang kurang begitu segar karena kecapekan, ingin rasanya masih

bermanja-manja dengan berselimut yang tebal dan menikmati tidur dengan nyenyak, malas mulai

menghantuiku namun apalah dayaku ? Aku tak bisa untuk bermalas-malas seperti ini. Aku harus

bangkit, menggerakan tubuhku dan bergegas untuk meninggalkan ranjang tempat tidurku. Ku

ambil gemercik air yang begitu dingin untuk berwudhu, dan bergegas untuk menunaikan ibadah

sholat shubuh. Bapak dan ibu selalu mengingatkanku untuk menunaikan sholat. Jarak sekolah

tempatku mengajar dari rumah yang aku tinggali sangat jauh, aku harus berangkat lebih awal.

Disaat teman guru-guru lainya masih pada menikmati tidur yang nyenyak, tapi aku harus sudah

berangkat ke sekolah. Setiap hari aku harus mengayuh sepeda mini ku dengan sepenuh tenaga,

ketika memakai rok itu ribet pasti. Tidak leluasa seperti memakai celana, ketika sedang

mengayuh sepeda. Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah  jarang banget yang namanya

pakai rok kemana-mana selalu memakai celana. Namun sekarang ini memakai rok sudah

menjadi kebiasaan pada diriku. Toh, pada dasarnya berubah dalam kebaikan itu memang harus

hahahaha, tegas dalam hatiku.

Setelah melewati hamparan sawah yang sangat luas, suasana perdesaan yang masih

begitu asri dengan menyajikan warna kehijauan dan sangat berbeda dengan suasana kota yang

mulai ramai, padat, karna orang-orang sudah mulai beraktivitas dan menjadikan jalan macet.

Walapun aku berada di kota sama saja macet tidak berlaku untuk diriku, karena sepeda miniku

bisa menerobos rambu-rambu jalan lalu lintas dengan cepat dan aman. Mengajar dan mendidik,

itulah pekerjaan ku saat ini. Aku sangat mencintai pekerjaanku ini walupun gaji nya tak seberapa

dan terkadang masih menghandalkan kiriman dari bapak dan ibuk untuk bekal hidup di kota

yang terpencil ini. Setelah wisuda pada setahun yang lalu, aku langsung diterima menjadi guru

honorer di sekolah yang terpencil di kota ini sangat jauh dengan keramaian. Bapak dan ibu

sebenarnya tidak memberikan izin aku mengajar di kota ini. Karena takut kalo anaknya ini

terjadi apa-apa. Namun setelah aku menyakinkan mereka, dan hasilnya aku di izinkan untuk

mengajar dan mendidik, mencerdaskan anak-anak di kota ini. Di SD dan SMA, disitulah aku

Setiap hari senin sampai rabu aku selalu mengajar di SD. Dari pihak sekolah memberiku

amanah untuk mengajar di kelas 1 , yang anak-anak nya masih begitu polos seperti kertas kosong

putih, belum ternoda dengan tinta. Satu kelas berisikan 10 anak mengajariku arti kesabaran yang

begitu luar biasa. Walaupun hanya 10 orang anak saja, terkadang aku merasa kewalahan. Mereka

lebih suka bermain, sedikit dari mereka yang suka untuk belajar. Untuk itu, aku memberikan

pelajaran dengan permainan. Melatihnya untuk menulis, membaca itulah keseharianku mengajari

mereka. Bahkan ketika aku mengajar dikelas ini aku harus bisa menjadi teman mereka bukan

menjadi seorang gurunya.

Berbeda lagi ketika aku mengajar di SMA. Setiap hari kamis sampai sabtu itulah jadwal

kerjaku untuk mengajar di SMA. Di SMA ini aku mengajar kelas XI Ipa Kewalahan itu sudah

pasti, karena mereka sudah dewasa jadi terkadang se enak nya sendiri sulit untuk diatur. Dalam

hal mengenai sopan santun, etika, tata karma mereka masih kurang. Dengan murid yang

berjumlah 20 anak, aku belum bisa mengendalikan kelas. Ketika proses pembelajaran

berlangsung, mereka lebih asyik mengobrol, bercanda dengan temanya sendiri. Hanya sedikit

dari mereka yang memperhatikanku ketika aku menjelaskan materi. Ketika mereka ramai dan

aku tegur, mereka selalu memaki-maki dan berkata kasar padaku. Terkadang, ingin rasanya aku

marah sama mereka dan bertindak kasar kepada mereka, supaya mereka dapat jera dan

menghargaiku menjadi guru nya. Namun apalah dayaku ? Aku tak berhak untuk melakukan hal

itu. Ku asingkan pikiran buruk ku itu. Setelah aku merenungkanya , “oh iya, aku ini seorang guru

yang harus bisa mengarahkan mereka ke dalam kebaikan bukan melawannya mereka dengan

kekerasan” dalam batinku. Aku disini benar-benar dituntut untuk ekstra bersabar.

Setengah tahun sudah aku mengabdi di kota ini, namun aku tak bisa memberikan

perubahan yang banyak pada murid-muridku. Pernah terlintas dalam benakku, untuk mengakhir i

ini semua. Namun hati kecilku masih menginginkan untukku mengajar di kota ini.  Mengajar,

mendidik mereka dengan fasilitas yang kurang memadai, disini aku diharuskan memakai media

pembelajaran dengan seadanya. Bangunan sekolah yang kurang begitu kokoh, atap sekolah

ketika hujan bocor, tembok yang terbuat dari bambu berbeda dengan kota yang fasilitasnya

memadai, bangunanya kokoh dan sangat menunjang untuk proses pembelajaran. Sumber buku

disini hanya terbatas, sekolah tidak memiliki perpustakaan. Perpustakaan hanya berada di pusat

kota saja. Bapak dan ibu guru disini mereka mengajar dengan menggunakan sumber ilmu yang

mereka punya, tidak semuanya dari mereka memiliki buku sebagai pegangan untuk mengajar

kalo pun memiliki itu sudah edisi lama.  Disini aku merupakan guru yang paling muda sendiri,

“Bu Gadis” itulah nama panggilanku disini. Mereka memanggilku bu gadis karena disini aku

merupakan guru yang paling muda dan belum menikah. Bapak dan ibu guru disini sebagian

besar usianya sudah memasuki setengah abad.

Aku sangat bangga dengan beliau semuanya, mereka mampu bertahan untuk mengabdi di

kota yang terpencil ini. Menghabiskan masa tua nya disini. Mereka tidak pernah putus asa,

walaupun anak-anak didiknya sangat susah diatur namun mereka semua tetap bersabar dan

menjalani semuanya dengan ikhlas. Aku harus bisa seperti mereka. Aku yakin pasti bisa.

Kuyakinkan diriku untuk bertahan di kota ini. Aku harus merubah cara mengajarku dengan

memanfaat kan media pembelajaran yang tersedia di sini. Aku harus bisa  berbaur dengan

mereka sepenuh hati. Uang dari gajiku tiap bulan, aku sisihkan untuk membeli buku-buku

penunjang pelajaran. Uang kiriman dari orang tua, aku berikan ke sekolah untuk membangun

ruang kelas agar lebih kokoh. Sehingga murid-murid dapat belajar dengan nyaman. Ketika Ujian

Nasional, di SD, SMP dan SMA yang berada didaerah ini tidak bisa menyelenggarakan. Maka

untuk bisa mengikuti Ujian Nasional, harus pergi ke kota menumpang dengan sekolah yang

berada di pusat kota. Menyedihkan itu pasti, ingin rasanya aku berjuang menjadikan sekolah ini

agar bisa menyelenggarakan Ujian Nasional di sekolah sendiri. Pihak sekolah, murid-murid dan

pihak warga setempat menginginkan sekolah daerah sini dapat menyelenggarakan Ujian

Nasional sendiri. Karena ketika anak-anaknya melaksanakan  Ujian Naional di sekolah yang

berada di pusat kota itu memerlukan biaya yang banyak, sedangkan warga disini mata

pencahariannya sebagai petani. Pendapatannnya hanya sedikit dan mereka hanya mengandalkan

dari hasil panen untuk biaya anaknya sekolah.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. “Alhamdulillah,

buku-buku pelajaran sudah terkumpul banyak, semoga dapat bermanat bagi murid-muridku”

gumamku dalam hati. Buku-buku yang sudah terkumpul sudah banyak, setiap harinya selalu ku

bawa ke sekolah. Setiap harinya mereka selalu aku wajibkan untuk membaca buku. Namun

untuk murid yang SD mereka tidak suka membaca buku, mereka lebih senang mendengarkan

aku bercerita dongeng dan cerita-cerita  rakyat lainnya. Setelah beberapa bulan kemudian,

mereka sudah bisa menerima ku menjadi guru nya. Murid yang SMA kelas XI Ipa sudah bisa

menghargaiku menjadi guru, setiap aku menjelaskan materi mereka selalu mendengarkan dengan

baik. Untuk murid yang SD sekarang lebih gemar berlatih membaca dan hasilnya mereka semua

sekarang bisa membaca dengan lancar dan benar. Dalam proses pembelajaran mereka sangat

aktif. Senang nya hati ini, melihat perubahan yang baik dari murid-murid.

Sepulang dari mengajar, ku sempatkan mencari bambu di sekitar kebun dekat rumah

yang aku tinggali sekarang ini. Aku ingin membuat perpustakaan mini, sebagai tempat untuk

mereka membaca dan belajar. Karena jarak rumah satu dengan satunya begitu jauh, tak banyak

dari warga yang tau ketika aku menebang bambu sendirian dan hasilnya aku harus mengerjakan

semuanya ini dengan sendiri. Tapi, aku tidak boleh mengeluh dan putus asa. Tetap semangat dan

terus bekerja keras itulah motivasi ku, ketika aku merasa lelah. Setelah bambu terkumpul

banyak, ku buat rumah mini dengan sebisaku dengan model rumah panggung. Yang bawah

kujadikan sebagai tempat mereka untuk bermain. Sebulan kemudian, rumah panggung mini

sudah jadi. Bapak dan  ibu aku suruh untuk berkunjung kesini dengan membawa buku-buku

bacaan, buku pelajaran dan buku dongeng. Bapak dan ibu selalu mendukungku. Senang sekali

rasanya, bisa membangun perpustakaan ini. Setiap hari, setelah pulang sekolah murid-murid SD

dan SMA selalu mengunjungi perpustakaan ini, mereka sekarang lebih gemar membaca. Setiap

hari minggu, aku mengajari mereka untuk berlatih menulis entah itu pantun, puisi, cerpen dan

masih banyak sekali.

“Alhamdulliah, aku sekarang bisa memberikan manfaat yang baik untuk orang-orang

disini, namun aku belum bisa mewujudkan mimpi dari mereka yaitu bisa menyelenggrakan Ujian

Nasional di sekolah sendiri tanpa harus menumpang di sekolah yang berada di pusat kota”

gumamku dalam hati. Setelah beberapa hari kemarin aku mengirimkan surat pada

kepemerintahan pusat kota namun tidak ada respond an perkembanganya. Pagi-pagi ini aku

memberanikan diri  untuk pergi ke pusat kota dengan sepeda mini yang selalu menemaniku

kemana-mana, berangkat dari rumah sebelum matahari terbit dan sampai di pusat kota, matahari

sudah menampakkan sinar teriknya. Tak lama kemudian aku sampai di kantor dinas pendidikan

dan kantor pemerintahan yang kebetulan gedungnya bersebelahan. Gedungnya sangat mewah,

berdiri dengan kokoh dan terdiri dari beberapai lantai yang menjulang ke atas. Aku langsung

mengajukan pada dinas pendidikan dan pemerintah kota, untuk bisa menyelenggarakan Ujian

Nasional di sekolahku mengajar. Tapi mereka belum bisa memberikan izin, karena akses jalan

menuju ke sekolah itu belum memadai, fasilitas masih kurang dan masih banyak lagi alasan dari

mereka . Walaupun aku tetap bersisi kukuh meminta izin, mereka tetap menolaknya. Tetes demi

tetes membasahi mata ini, disini aku hanyalah orang kecil yang tidak bisa bergumam apa-apa.

Aku sangat sedih karena belum bisa mewujudkan mimpi mereka. Mengapa ketika pemerintah

kota beralasan akses jalan menuju ke sekolah itu belum memadai, fasilitas sekolah belum

menunjang dan masih banyak lagi alasan dari mereka. Tapi kenapa mereka, tidak mempunyai

gagasan untuk membangun sekolah, membangun akses yang berhubungan dengan sekolah ini

yang berada di daerah terpencil ini. Mereka tidak perduli dengan hal ini, mereka lebih perduli

dan memperhatikan sekolah yang berada di pusat kota. Aku pulang dari tempat ini dengan

perasaan yang benar-benar kecewa. Karena disini pemerintah tidak bisa adil. Maafkan aku

murid-murid ku. Maafkan aku bapak dan ibu guru yang lainya karena pada saat ini belum bisa

mewujudkan mimpi kita bersama yaitu bisa menyelenggarakan Ujian Nasional di sekolah

sendiri. “Semangatku jangan sampai terhenti disini. Berusahalah sekuat tenaga yang kamu miliki

dan berdoalah” motivasiku dalam diriku.




Ani Oktavia ( Pendidikan Biologi’14 )

Kau, yang Kurindu

Kini aku telah bebas. Kulangkahkan kaki ku menelusuri jalan dan lorong yang sudah

sering kulalui. Malam dengan gelapnya menyelimuti jiwa yang goncang ini. Keheningan pun

senantiasa melekat dalam jiwa yang belajar tegar dalam menata hidup. Pikiranku melayang

jauh saat menuju rumah. Dalam lamunan, aku seakan memutar kembali kejadian yang

kualami dahulu. Bukan perihal mudah bagi ku untuk dapat berdiri  di sini meneruskan

kembali sisa kehidupan di dunia yang penuh kabut pilu.

Sebuah ponsel hitam berdering dari dalam kantung ku. Ku lihat sekilas, ternyata satu

panggilan dari nomor yang tak dikenal. Dengan perlahan ku angkat panggilan itu.

“Assalamu’alaikum Jenar . Bagaimana kabarmu sekarang? Aku dengar kamu sudah

Kuhentikan langkahku sejenak setelah ku dengar suara itu. Meski tidak melihat orang

yang sedang berbicara di seberang sana, tapi aku tahu betul siapa dia.  Aku terdiam, seakan

Entah mengapa jari tangan ku seketika menekan tombol tutup. Kulangkahkan lagi

kedua kaki ku menelusuri kota kecil ini tepatnya di jantung kota Wonogiri. Setelah itu

kemasukkan lagi ponsel kedalam saku celana ku. Jalan ini seakan paham betul kisah hidupku.

Kuketuk pintu rumah bercat putih ini, tapi tak ada respon. Ku ulangi lagi sampai ketiga

Tok tok tok ........ “Assalam’alaikum.”

Kuputuskan untuk duduk di teras rumah sambil menunggu si empunya membukakan

pintu. Ku lihat bintang-bintang di langit, cantik dan indahnya. Setelah 15 menit berlalu tiba-

tiba terdengar derap langkah kaki dari dalam rumah. Seorang gadis cantik yang beranjak

dewasa dengan rambut sebahu, kulit sawo matang dan hidung mancung. Yah, benar itu adalah

adikku Anila, salah satu yang menjadi alasan mengapa aku masih bertahan di sini. Sejak kecil,

aku telah terbiasa hidup mandiri dengan Anila, adik yang sangat ku sayangi. Anila, sejak kecil

dia mengidap penyakit jantung. Itu menjadi kewajiban ku sebagai kakak untuk banting tulang

mencari uang agar Anila bisa berobat dengan teratur.

“Lho kak, udah dari tadi to? Ayo masuk nanti masuk angin.”

“Kakak, dari mana aja kok baru pulang. Oh iya, mau Anila buatin makanan?”

“Nggak usah, tadi kakak makan diluar. Kamu tidur aja.”

Aku terjaga dalam dingin nya malam. Tahu-tahu sudah lewat waktu subuh. Pelan

kuraih ponsel yang terletak tidak jauh dari tempat tidurku. Ku lihat jam. Pukul 04.45. Hari

sudah pagi. Keheningan begitu menguasai ruang dan waktu juga diriku. Kusambar handuk

lalu perlahan aku berjalan menuju kamar mandi. Dingin menusuk tubuh.  Setelah selesai

mandi, aku segera menyiapkan sarapan untuk adik ku.

“Hoam, nyem nyem nyem. Hemm wangi nya”

“Hehee iya, lho kak Jenar kok tumben udah rapi gini. Mau kemana?”

“Ini hari pertama kakak kerja lagi setelah kemaren di pecat dari pabrik buntut itu.”

“Emang kakak kerja dimana sekarang?” (sambil meneguk segelas air putih)

“Di salah satu perusaaan besar di kota ini.”

Langit di hari Rabu tampak sangat cerah. Angkasa yang luas itu nyaris tidak terlihat

gumpalan awan putih. Warna kebiruan itu menunjukkan keindahan dan keagungan Sang

Pelukis. Udara Wonogiri yang begitu sejuk pun masih baik untuk dihirup. Ku ayunkan sepeda

viksi ini menuju perusahaan Deltomed. Jarak rumah menuju kantor memang tidak begitu

jauh, sekitar 1 kilometer saja. Dalam perjalanan terbayang sejenak kejadian tadi malam.

Seseorang yang sudah lama menghilang tanpa adanya satu kabar apapun tiba-tiba datang lagi

di kehidupan ku. Dia yang telah lama ini ku rindukan , Dia yang selalu mampir di pikiran ku.

Tapi entah apa yang membuatnya datang di kehidupan ku lagi.

Pukul 19.30. Malam telah membentangkan sayapnya. Beberapa menit setelah pulang

dari kantor, kuputuskan untuk mampir sebentar ke angkringan dekat alun-alun walaupun

hanya sekedar meneguk teh hangat. Lima belas menit lebih aku bersepeda menyusuri kota

Gaplek ini menuju angkringan yang akhir-akhir ini menjadi tujuan melepas penat setelah

seharian bekerja. Aku lalu memesan setelah duduk di bangku panjang dalam angkringan.

Makanan khas yang dijual di angkringan adalah menu khas angkringan pada umumnya. Nasi

kucing, gorengan, macam-macam sundukan. Harganya memang sangat bersahabat bagi

Setelah puas menikmati kudapan malam di angkringan aku segera pulang ke rumah.

Seperti biasa langit malam selalu menyempurnakan keadaan hati ku, sepi dan kosong.

Terdengar suara nyanyian indah dari jangkrik dan kodok  saling bertautan. Tiba-tiba rintik

hujan pun turun seketika membuyarkan lamunan ku. Segera ku ayuh sepeda dengan langkah

lebih cepat agar aku tak kehujanan. Liku jalan ini seolah mempersulit kecepatan bersepeda ku.

Jalan mulai licin dan lubang-lubang pun mulai tertutup air hujan. Tidak terasa baju yang

kukenakan basah kuyup. Sambar petir pun mulai terdengar.

Beberapa menit setelah membersihkan diri, aku segera menuju ruang tamu menyusul

Anila yang sedang asik menonton tv. Sambil membawa satu cangkir teh hangat di tangan, aku

duduk di sofa. Ku teguk teh ini dan benar saja itu sangat membantu menghangatkan badan.

Ku usap hangat kepala adik ku bukti bahwa aku sangat menyayanginya. Disandarkan nya

kepala Anila ke pangkuan ku. Kami pun berbincang hangat. Layaknya kakak adik yang baru

bertemu dari perantauan. Apapun yang Anila alami seharian ini dia ceritakan dengan panjang

lebar. Dia memang gadis yang cakap berbicara, tak seperti aku yang hanya berucap

seperlunya saja. Kami mempunyai dua sisi yang berbeda. Anila dengan gayanya yang suka

berbicara dan sikapnya yang ramah kepada siapa saja, tetapi berbeda dengan aku. Aku orang

yang dingin, cuek dan tak suka berucap.

“Oh iya kak, tadi ada orang yang mencari kakak.”

“Kayak nya dia kak Belani deh, tapi dia sekarang jadi beda banget kak penampilan

nya. Baju nya kayak orang-orang kaya gitu.”

Sejenak aku berfikir, untuk apa lagi dia datang ke sini.                                         

“Dia ngomong apa ke kamu dik?”

“Emm, dia nggak ngomong apa-apa. Katanya cuma kangen datang ke rumah ini.”

“Em, memangnya kakak sampai saat ini belum punya cewek?”

“Aku tidak membutuhkan nya, untuk saat ini.”

“Jangan bilang kak Jenar masih menunggu wanita itu?”’

“Wanita yang mana yang kamu maksud? Terlalu banyak wanita mengelilingi.”

(dengan seringai aku berkata penuh percaya diri.)

“Wanita yang telah menghancurkan kehidupan kita dan membuat kakak seperti ini.

Lupakan dia, dia tak pantas untuk kakak.”

“Sudah lah Anila, jangan terlalu kamu pikirkan.” (sambil tersenyum lembut)

“Aku sudah lelah kak, setiap hari harus bersikap sok manis di hadapan perempuan-

perempuan yang ingin mendekatimu. Setiap hari mereka mengirimkan cake, coklat,

ataupun bunga untuk menarik simpati kakak.”

“Maaf untuk itu, tidak perlu kamu bersikap baik kepada mereka. Aku tak akan

sekalipun memperdulikan mereka adikku.”

“Kakak terlalu tampan, pintar dan baik untuk hidup sendiri.”

Udara malam begitu dingin. Menusuk tubuh yang mencoba menahannya. Kesunyian

yang tersisa di penghujung malam masih melekat di dinding ruang dan waktu. Aku hanya

diam membisu menikmati sunyi nya malam. Jam menunjukkan pukul 01.20. Namun aku

masih enggan untuk bergegas beranjak ke kasur. Ku sapu keadaan sekitar dengan

penglihatanku, daun-daun masih basah terkena sisa tumpahan air hujan sore tadi. Di koridor

depan rumah memang tempat yang pas untuk menikmati pemandangan kota Wonogiri di

malam hari. Terlihat lampu-lampu perumahan warga di bawah sana. Rumah ini memang

berada jauh lebih tinggi sehingga di malam hari terdapat tontonan yang apik di bawah sana,

yaitu lampu-lampu rumah warga. Memang kedatangan Belani tadi membuat otak ku terus

berpikir, drama apa lagi yang sedang dia persiapkan untuk ku.

Rumah itu tampak tenang. Hari masih pagi. Bumi Wonogiri telah terang disinari

cahaya indah oleh sang surya. Keramaian telah terdengar dari jalanan dan sudut kota. Orang-

“Lho kak Jenar? Pagi-pagi kok udah di balkon?”

“Eh kamu udah bangun? Iya tadi malam kak Jenar ketiduran disini.”

“Udah, tadi Anila beli sayur di pasar depan rumah. Yaudah kak, masuk yuk sarapan.”

“Iya, kamu siapin dulu aja, kakak mau mandi.”

Selang beberapa menit kemudian, Jenar bergegas masuk ke dalam rumah untuk mandi.

Tercium harumnya hidangan yang telah disajikan Anila di meja makan.  Anila memang gadis

yang ahli dalam bidang memasak. Dia selalu menyajikan masakan penuh selera di depan meja

makan. Lima belas menit kemudian aku bergegas menuju meja makan. Ternyata Anila sudah

menungguku sedari tadi. Dia terlihat sudah rapi dengan penampilannya. Memang pagi ini

adalah hari pertama dia masuk kuliah setelah 3 bulan lama nya libur. Selepas menikmati

sarapan, aku bergegas pergi ke kantor.

Jalanan kota Wonogiri mulai ramai. Para pengendara sepeda maupun mobil memadati

jalan. Mereka berkendara secepat mungkin agar bisa sampai di kantor maupun sekolah tanpa

terlambat. Tepat pukul 07.00 aku sampai di kantor. Hari ini seperti biasa ku habiskan waktu

ku seharian di depan komputer. Tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampiri meja kerja ku.

“Ini tolong kamu selesaikan ya, soalnya kemarin saya lihat masih banyak yang salah.”

“Oh baik bu, nanti coba saya periksa kembali.”

Seketika aku tertegun melihat sosok gadis yang berdiri di depan meja kerja ku itu. Ya,

benar dia adalah Belani seorang gadis yang telah lama ini menghilang dari kehidupan ku kini

telah kembali. Sekarang dia bukan lah Belani yang ku kenal dahulu, Belani yang hanya gadis

lugu dari desa. Kupalingkah tatapan ini dari nya, seolah aku tidak pernah mengenalinya.

Benar saja dia juga bersikap demikian, seolah diantara kita tidak pernah mengenal

Ruangan ber-AC itu cukup tenang. Hanya seorang lelaki berumur tiga puluhan dan

aku seorang. Lima menit kemudian ku beranikan diri menghampiri meja kerjanya. Ternyata

lelaki itu sedang asyik membaca koran tadi pagi.

“Lho pak, ndak makan siang to?”

“Eh, kamu Jenar. Ah pagi ini istri saya sudah membawakan bekal untuk makan siang.

“Oh, saya masih kenyang pak. Em, pak memangnya tadi gadis yang menghampiri

(sambil berfikir) “Oalah, ibu Belani ya? Dia itu istri dari pemilik perusahaan ini.

Memangnya kamu tidak tahu.”

“Apa? Oh saya kira itu anak dari pemilik perusahaan ini pak.”

Ketermenungan ku itupun buyar seketika saat telepon genggam ini berdering sangat

keras. Aku langsung beranjak dari tempat duduk ku. Meraih ponsel yang ada di atas meja

kerja. Belani sedang memanggil. Sebuah guratan tanda tanya pun terlihat di wajahku.

“Maaf mengganggu, Je,” ucap Belani setelah ku balas salamnya. “Kamu masih di

“Oh, masih. Memangnya kenapa.’

“Em, aku Cuma mau minta maaf atas sikap ku yang seolah tadi siang di kantor,

bagaimana kalau kita dinner? Aku tunggu di rumah makan Kampung Steak ya.”

Entah ini perasaan senang atau sedih. Seketika aku segera membereskan meja kerja

dan bergegas menuju tempat yang Belani minta. Dengan langkah yang terburu-buru tidak

sengaja aku menabrak seorang gadis di depan ku. Kertas-kertas penting yang ada di tangan

nya pun berserakan di lantai. Aku segera membantu nya merapikan kertas-kertas itu.

“Ah, kamu gimana sih. Kalau jalan liat-liat dong.”  Ucap nya ketus

“Em, maaf-maaf saya tidak sengaja.”

Tanpa banyak basa-basi gadis itu pun segera melangkah pergi. Begitu pun dengan aku.

Waktu menunjukkan pukul 07.45. Aku segera meninggalkan kantor ini. Baru dua menit

setelah itu, langsung ada yang memanggil.

“Wa’alaikumssalam. Ada apa Anila?”

“Kakak nanti pulang jam berapa? Soal nya aku masih di rumah temen ngerjain tugas.”

“Aduh, nanti kakak pulang malam Anila, masih ada kerjaan di kantor.”

“Oh bagus deh kak, nanti kakak sekalian makan di luar aja ya.”

Klik. Telepon ditutup. Ayuan sepeda viksi ini pun ku percepat. Mungkin Belani sudah

menunggu lama. Pikirku salah, ternyata Belani belum datang. Kuputuskan untuk memesan

tempat yang nyaman dengan latar menghadap ke koridor depan. Sambil menunggu

kedatangan nya, ku coba berjalan menghampiri rak buku besar yang ada di dalam cafe itu. Ku

pandangi buku-buku yang berbaris rapi di sana. Langkah tangan ku pun terhenti di salah satu

novel karangan Tere-Liye “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” . Kutarik buku itu dan

kubawa ke meja yang telah ku pesan tadi. Tak ku sadari seorang gadis cantik ternyata sedari

“Kamu udah lama berdiri di situ?” ucap ku perlahan

“Kamu udah pesan minum? mbak-mbak !” panggilnya

Aku sesekali memandang wajah Belani. Hanya sebentar. Namun rasa kagum ku

padanya sampai saat ini belum lah pudar. Tiada keinginan untuk menegasikan keanggunan

sang bidadari tanpa sayap yang duduk di depan ku itu. Rasa yang dulu ada ternyata sampai

saat ini masih lah melekat di dalam relung hati terdalam. Walaupun gadis itu telah melukai

hati ini. Ingin sekali lagi ku genggam tangan nya, ada asa untuk bisa menjadikan nya wanita

yang halal bagi diri ku. Namun kenyataan berkata lain.

“Jenar, aku minta maaf atas sikap ku tadi pagi dan kesalahan yang ku perbuat ke

“Kesalah yang mana, yang kamu maksud, Bel?”

“Kesalahan yang ku perbuat beberapa tahun silam.”

“Untuk apa kamu sekarang disini bersama ku? Bukankah kamu sekarang telah

menemukan kehidupan yang kamu ingin kan?”

Air mata pun perlahan menetes dari mata indah Belani. Hati pun tak kuasa melihat

kesedihannya. Namun apalah daya, tangan ini serasa kelu untuk mengusap air mata itu.

Setalah menikmati makan malam, langkah kami terpencar. Tiada kata lagi yang mampu ku

ucap. Hanya sepenggal kata yang mampu kuucap lirih dalam benak.

Kau diantara bayang-bayang dan kenangan masa lalu, mengalir lembut di pipiku.

Dan bersemai diantara dua kasih lalu membisu, menatap malam diantara kesepian.

Terkadang hidup terasa sulit ketika cobaan datang menghantam jiwa. Jalan terasa

buntu. Ruang gerak sempit. Pikiran penuh beban. Langkah pun terhenti. Jiwa ku sudah

separuh ada dalam kesadaran. Ku tatap dinding kamar yang hanya memajang kebisuan yang

terasa seakan abadi. Waktu berdetak terus tanpa henti, walau hanya sedetik. Hingga ku sadari

malam sudah kian hening. Hanya saja jiwa ini masih enggan untuk beranjak dari tempat

Pagi ini, seakan bumi memahami jiwa ku yang sedang hancur. Langit nampak

mendung. Kuputuskan pagi ini untuk pergi ke kantor mengendarai mobil. Memang aku lebih

menyukai sepeda viksi putih itu ketimbang mobil merah ini. Aku serasa menyatu dengan alam

dikala menikmati perjalanan dengan sepeda viksi. Hujan pun perlahan mulai turun dengan

Lima belas menit kemudian aku tiba di kantor. Suasana kantor nampak nya masih

sepi. Kulangkahkan kaki ini dengan perlahan, seakan kaki ini kelu untuk berjalan.

Sesampainya di depan elevator, ku tekan tombol untuk dapat menghantar ku ke lantai 5

gedung kantor ini. Di dalam elevator aku bertemu dengan gadis cantik yang kemarin

bertabrakan dengan ku. Sikap nya begitu dingin.

Di depan meja kerja ku, aku masih termenung. Tiada hasrat sedikitpun untuk

menyentuh tumpukan kertas yang ada di depan meja. Seminggu ini memang pekerjaan ku

sama sekali tidak terselesaikan. Aku hanya terdiam dengan tatapan kosong. Aku terus saja

memikirkan kejadian malam itu. Dimana Belani meminta maaf kepada ku dengan penuh rasa

bersalah. Aku bisa merasakannya. Entah mengapa tanpa diminta pun secara otomatis hati ini

 “Sudah selesai melamun nya?”

Tiba-tiba ada seseorang yang sedari tadi berdiri di depan meja kerja ku tanpa kusadari

sedikit pun. Aku pun memperbaiki posisi duduk ku

“Oh, em em. Tapi maaf sebelum nya Anda siapa ya dan ada kepentingan apa anda

“Hah? Apa yang barusan Anda bilang tadi? Oh jadi Anda karyawan baru ya di sini?”

“Em iya, saya karyawan baru disini.”

“Saya tunggu anda di ruangan saya sekarang.”

“Oh, berani-berani nya anda menyuruh saya.”

“Jangan banyak bicara. Lekas kerjakan apa perintah saya.”

Seketika karyawan-karyawan yang ada di ruangan itu pun menatap percakapan ku dengan

gadis itu. Sementara aku hanya kebingungan dalam diam. Aku segera beranjak dari tempat

duduk, sebelum nya aku masih bingung kemana aku menemui gadis tadi. Aku pun tidak

mengenalinya sama sekali bahkan jabatan dia di kantor ini.

“Em, hai kamu anak muda. Kamu tahu kan tadi kamu bicara dengan siapa?”

“Tidak, memangnya dia siapa dan apa pentingnya jabatan dia di kantor ini pak?”

“Wah kamu benar-benar ya, temui saja dia di ruangan nya.”

“Ruangan nya pun saya tidak mengetahui nya pak.”

“Kamu ini, lihat saja apa yang akan Dia lakukan kepada mu. Sudah pergi sana ke

ruangan nya jangan sampai dia memakan mu hidup-hidup.”

“Aih Bapak ini, kemana saya harus pergi?”

“Kamu pergi ke lantai 3, nanti tanya saja ke karyawan disana ruang Direktur Utama

Lima menit kemudian aku tiba di depan pintu ruangan yang dimaksud kan tadi.

Kuketuk pintu itu perlahan seakan nyaris tidak ada suara yang ditimbulkan nya. Ku buka

gagang pintu, dan dengan langkah yang amat pelan ku beranikan diri untuk masuk dalam

ruangan itu. Terlihat ada seorang gadis muda sedang duduk di depan meja kerja nya. Nampak

nya dia sedang sibuk mengotak-atik laptop di depan nya. Bahkan dia tidak menyadari bahwa

aku sedang memperhatikan kegiatan nya. Dia baru tersadar setelah mendengar deheman ku.

“Oh, kamu nampaknya. Duduk!”

Seusai menyelesaikan percakapan di ruangan itu, aku segera melangkahkan kaki untuk

keluar dari ruangan. Segera aku bergegas untuk kembali ke meja kerja ku. Setelah menaiki

eskalator tibalah aku di ruang kerja. Lama aku memikirkan kejadian tadi. Betapa bodoh aku

ini, dengan berani nya membentak Direktur Utama dan bersikap seolah orang itu tidak

mempunyai jabatan di kantor ini. Ya benar, dia adalah Anindya seorang Direktur Utama, dan

anak dari pemegang kantor ini. Dan  itu berarti Anindya adalah anak tiri dari Belani. Umurnya

yang terhitung masih muda namun sikap nya yang tegas dan matang dalam menghadapi

persoalan-persoalan di kantor memang pantas menjadikan nya sebagai Direktur. Terang saja,

Dia bersikap tegas kepada ku dengan memberikan hukuman.

Seminggu berlalu setelah kejadian di Cafe dengan Belani. Semacam petaka bagi ku

karena kejadian itu, akibatnya disaat orang-orang sedang asik menikmati hari Minggu dengan

bersantantai di rumah aku harus menyelesaikan tugas di kantor. Setumpukan pekerjaan telah

menantiku disana. Mobil merah ini melaju dengan cepat nya. Di tengah perjalanan aku

berhenti sebentar di salah satu mini market untuk membeli makanan dan minuman.

Sekitar lima belas menit lama nya aku tiba di kantor, tangan ku penuh dengan

tentengan makanan dan setumpukan pekerjaan yang sengaja aku bawa ke rumah untuk ku

selesaikan. Tak kuduga gara-gara kejadian beberapa waktu silam ternyata menyita waktu ku.

Pekerjaan ku pun terbengkalai. Namun aku harus bangkit. Nampaknya hanya aku saja yang

berada di kantor ini, sedari tadi tak ada seorang pun yang kulihat. Di meja hitam ku ini aku

seharian mengotak-atik laptop dan kertas-kertas penting disana. Tiba-tiba aku mendengar

derap langkah kaki memasuki ruangan ku. Ternyata itu Direktur Anindya. Dia berjalan ke

“Bagaimana pekerjaan mu, sudah selesai?”

“Oh, mungkin besok pagi berkas-berkas ini bisa saya antar ke meja kerja anda.”

“Bagus lah kalau begitu.” (sambil berjalan keluar ruangan)

“Em, Direktur sudah makan? Bagamana kalau saya traktir anda minum hanya untuk

sekedar meminta maaf atas kelakuan saya kemarin.”

“Boleh juga.” (dengan sikap dingin nya)

Ku lajukan mobil ini dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil ini saya terdengar

lantunan musik yang sedang ku putar. Memang Direktur Anindya hanya berdiam diri tanpa

mengucapkan satu patah kata pun. Aku pun juga demikian. Nampaknya langit sore ini sedang

tidak bersahabat. Terlihat gumpalan mendung sedang bernaung di atas sana, kilat petir pun

Dalam benak Direktur itu, sebenarnya dia tidak begitu buruk bahkan sangat tampan, IQ yang

diatas rata-rata, pesonanya , dan sikapnya yang penuh percaya diri. Cih apa-apaan aku ini.

Dia hanya seorang karyawan biasa namun kenapa pesona nya tak mampu aku abaikan.

Aku pun segera membukakan pintu untuk nya. Kami berjalan menelusuri keheningan

malam. Memang kota ini selalu nampak sepi. Aku melihat sekeliling mencari-cari meja yang

kosong. Namun entah mengapa tangan ini seketika menggenggam tangan nya dan menuntun

nya ke meja yang ku maksud kan. Tempat ini memang nampak panorama kota Wonogiri yang

begitu indah di kegelapan malam. Lampu warna-warni menghiasi kota nan asri ini. Segera ku

pesan menu makan dan minum. Direktur pun hanya meng-iya kan apa yang aku pesan.

“Saya dengar ada film baru yang menarik, em bagaimana jika anda menemani saya

“Apa? Saya menemani kamu?”

“Yah, itupun jika Direktur menyetujui nya. Lagi pula anda kesini dengan saya tanpa

membawa mobil sendiri. Bagaimana mungkin saya harus mengantar anda terlebih

dahulu ke kantor dan kembali lagi ke sini.” (dengan nada bicara penuh percaya diri)

Seusainya makan malam, mobil yang ku kendarai pun meluncur ke gedung bioskop.

Kami berencana untuk menonton film. Dua jam pun kami habiskan disana. Film itu cukup

menarik. Kami berdua sangat menikmati nya. Direktur Anindya nampak nya mulai

menunjukkan sikap asli nya. Dia yang selama ini selalu bersikap dingin dan tegas, ternyata

aku melihat banyak kesedihan yang tersimpan pada dirinya. Aku tercengang melihatnya

ketika menangis tersedu-sedu saat menyaksikan film tadi. Entah mengapa terbersit pikiran

dan keinginan yang sangat kuat untuk membuatnya terbebas dari beban yang selama ini di

sembunyikannya. Aku ingin membuatnya bahagia. Dia berbeda dari wanita lainnya. Dia

sangat menarik. Kemudian aku memutuskan untuk mengantarnya ke kantor, namun aku

berubah pikiran. Aku tidak tega meninggalkan nya di kantor dan melihatnya mengendarai

mobil malam-malam seorang diri. Anindya nampaknya bingung.

“Ini bukan jalan ke kantor. Apa kamu sudah lupa jalannya, sebenarnya kita mau

“Saya akan mengantarkan Anda pulang ke rumah. Bukankah ini jalan menuju rumah

“Sejak kapan kamu bersikap seenaknya sendiri?”

“Saya tidak tega melihat wanita pulang malam-malam sendiri. Besok pagi saya jemput

Mobil yang membawa kami pun tiba di depan rumah mewah yang berada di salah satu

komplek Wonokarto. Aku pun membukakakan pintu mobil untuk nya. Terlihat jelas wajahnya

yang nampak kelelahan. Ku bawakan tas dan laptop yang ada di dekapannya. Dan ku bantu

dia saat membuka pintu gerbang. Seberkas senyuman indah terlukis olehnya. Tiba-tiba ponsel

ku berbunyi. Segera aku berpamitan dan masuk ke mobil untuk menerima panggilan ini.

Ternyata panggilan dari seseorang yang ku kenal.

“Jenar, kamu sedang dimana?”

“Memangnya kamu ada perlu apa?”

“Aku hanya ingin mendengar suara mu.’

Tuttttt....... Segera ku tutup panggilannya. Aku muak dengan semua sikapnya.

Kenangan beberapa tahun silam pun seakan kembali kuputar dalam ingatan ku. Mengingat

betapa bodohnya aku mencintai seseorang seperti Belani. Cinta ku yang tulus kepadanya

hanya ia balas dengan luka dan kepedihan. Luka ini berawal ketika Belani sedang berada di

suatu tempat, tiba-tiba ada sekawanan anak muda yang mabuk mendekatinya. Mereka

mempunyai niat untuk melakukan tindak asusila ke Belani. Karena panik, Belani

melemparkan botol kaca ke kepala anak muda itu. Kepala anak muda itu mengeluarkan darah

yang tiada henti dan tubuhnya seketika tergeletak di lantai. Segera dia menelepon ku. Lima

belas kemudian aku tiba di suatu tempat yang di maksud nya saat di telepon. Status ku yang di

kala itu adalah mahasiwa kedokteran jelas saja mengetahui bagaimana kondisi anak itu.

Jantung nya sudah tidak berdetak, denyut nadi nya pun perlahan mulai menghilang. Benar

saja, anak itu meninggal. Kulihat Belani terisak menangis dengan botol kaca yang masih di

genggamnya. Aku pun tak kuasa melihatnya seperti ini, kulangkahkan perlahan kaki ini untuk

“Sebaiknya kamu menyerahkan diri ke polisi. Dia, dia sudah tidak ada di dunia ini.”

“Tidak, tidak mungkin anak itu mati. Dia masih hidup kan, Je.” (dengan menangis

“Menyerahlah, Bel. Hukuman akan semakin berat jika kamu menjadi buronan.”

“Tapi bukan aku, Je. Bukan aku yang membunuh orang itu.”

Kudekap erat tubuh nya. Hanya untuk sekedar membuat nya lebih tenang. Tangis nya

pun buncah. Ku genggam tangan mungil nya, sungguh tangan nya dingin dan bergetar. Dia

sangatlah ketakutan. Aku berusaha menenangkan wanita satu-satu nya yang aku sayangi.

“Pergilah dari sini seolah tidak terjadi apa-apa, lanjutkan hidup mu dan jangan sekali-

kali menoleh ke belakang. Lupakan kejadian ini. Aku yang akan menggantikan mu.”

Belani bergetar hebat, rahangnya tercekat, dia tidak mampu berkata apa-apa. Selain menangis,

aku merapihkan rambutnya yang berantakan dan membuatnya terlihat baik-baik saja. Aku

segera memaksanya untuk pergi dari sini, karena polisi terlihat mulai mendekat. Dan impian

yang kurangkai selama ini hancur seketika, impian untuk menjadi seorang Dokter. Aku di DO

Seketika lamunan ku pecah, ketika mendengar telepon berbunyi. Ternyata dari Adik

“Kak, kamu dimana? Kenapa belum pulang, ini sudah lewat tengah malam.”

“Ah iya, bentar lagi kakak sampai rumah. Tadi ada pekerjaan di kantor.”

Segera ku nyalakan mesin mobil ini dan melaju meninggalkan rumah Anindya. Tepat dua

puluh menit aku tiba di depan rumah ku. Segera aku masuk dan mengunci pintu.

Kulangkahkan kaki menuju kamar tidur. Ku jatuhkan tubuh ini ke tempat tidur dan terlelap.

Jam menunjukkan pukul 07.00. Kusantap sepotong roti buatan adik ku untuk

mengganjal perut. Segera ku nyalakan mesin mobil dan bergegas untuk berangkat. Pagi ini

seperti janji ku kemarin untuk menjemput Anindya. Perjalanan menuju rumah nya sekitar 20

kilometer. Sesampainya disana aku turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang rumahnya.

Setelah menunggu sepuluh menit lamanya, dia datang dengan membawa banyak bawaan di

tangan nya. Setibanya di kantor, aku dan Anindya segera memasuki ruang kerja.

Waktu berjalan dengan begitu cepatnya, dua bulan sudah aku dan Anindya saling

kenal. Kami melewati hari bersama-sama. Mulai dari berangkat kerja, di kantor sampai

pulang kerja ku lalui bersama nya. Aku merasa nyaman berada di dekatnya begitu pula

dengan Anindya. Malam ini aku akan membuat kejutan untuk nya. Sengaja aku pergi ke

rumah nya tanpa meminta persetujuan dari nya. Ku bawakan seikat mawar merah ke

rumahnya. Ku ketuk pintu rumahnya, nampak tak ada seorang pun yang mendengar. Tiba-tiba

derap kaki terdengar oleh ku, ternyata seseorang yang ingin membukakan pintu. Mungkin dia

Anindya. Perkiraan ku pun salah, dia adalah Belani.

Di ruang tamu itu aku dan Belani membicarakan banyak hal. Apa yang aku rasakan

sekarang saat melihat Belani tidaklah sama dengan perasaan ku dahulu. Kini aku melihatnya

hanya seorang teman, bahkan aku mulai membiasakan diri untuk bersikap ramah kepada nya

karena dia  ibu dari Anindya. Wanita yang kusayangi. Karena asyik nya mengobrol, aku lupa

tujuan awal ku ke rumah ini. Tak kuduga, ternyata Anindya sedari tadi berdiri tepat di pintu

masuk ruang tamu. Setelah ku sadari keberadaan nya, aku segera menghampiri nya. Namun

dia segera berlari menuju kamarnya dan terdengar isakan tangis oleh nya.

Ku ketuk pintu kamar nya beberapa kali, namun tak sekali pun di gubris olehnya. Aku

takut dia salah paham kepada ku. Telepon nya seketika di non-aktifkan. Lama aku menunggu

di depan pintu kamar itu, aku duduk bersandar pada daun pintu itu. Berharap dia mau

mendengakan alasanku. Namun lima jam lamanya aku menunggu, dia sama sekali tidak

keluar. Mungkin dia memang marah kepada ku. Kuputuskan untuk pulang dan mencoba

menghubungi nya lagi nanti. Aku pun ijin pulang ke Ibu tirinya, Belani.

Sesampai ku di rumah, aku masih memikirkan nya. Ku telepon namun tetap saja nihil

hasilnya. Aku tidak ingin Anindya membenci ku, karena aku terlanjur mencintainya. Aku

menyayanginya. Dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat ku melupakan Belani.

Dia yang membuatku bangkit dari keterpurukan masa lalu. Dalam lamunan itu, terbersit

Dulu di dalam sel tahanan aku selalu berharap dapat sesegera mungkin menikmati

segarnya udara luar. Belani, wanita yang kusayangi seminggu sekali pasti datang untuk

menjenguk ku. Dia selalu perhatian, selalu membawakan makanan, buku, atau apa saja.

Walapun datang dengan tangan kosong pun aku senang. Namun seiring berjalannya waktu,

intensitas nya mengunjungiku ke sel tahanan semakin berkurang. Mulai dari setiap hari,

seminggu sekali, sebulan sekali, dan setahun sekali. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

Aku selalu berpikir bahwa dia di luar sana sedang sibuk dan tidak sempat mengunjungiku.

Waktu yang kunantikan pun tiba, tepat empat tahun lamanya aku mendekam di sel

tahanan. Kini aku telah bebas. Bisa menikmati segarnya udara. Kota Wonogiri nampak ada

perubahan. Tanah-tanah kosong yang dulu nya tidak di manfaatkan kini berdiri tegak

bangunan-bangunan pertokoan. Namun udara Wonogiri sedari dulu masih baik untuk

dinikmati. Disamping bangunan-bangunan berdiri, pohon-pohon pun nampaknya masih

banyak disini. Setelah keluar dari tahanan aku selalu mencari informasi tentang keberadaan

Belani. Setiap hari aku mencari dan terus mencari. Ku datangi rumahnya pun, dia tidak ada.

Kata tentangga sekitar Belani sudah 2 tahun ini pindah rumah, namun mereka tidak

mengetahui alamat rumah baru nya. Dan suatu ketika aku mendapat berita dari seseorang

bahwa Belani menikah dengan seorang pengusaha kara raya di kota ini. Dan sejak saat itu hati

Sudah satu bulan lamanya aku dan Anindya tidak saling berkomunikasi. Aku selalu

melakukan berbagai cara untuk menemuinya. Namun, dia selalu mengelak. Nomor teleponnya

pun sudah digantinya. Pagi ini aku coba untuk mendatangi rumahnya. Benar saja dia tidak ada

di rumah. Ibu tirinya mempersilahkan aku masuk. Dia bercerita panjang lebar mengenai

keadaan Anindya. Ternyata memang benar, Anindya sudah mengetahui masa lalu ku dengan

“Je, tolong jaga Anindya. Sekarang aku telah ikhlas melepaskan mu untuk anak ku

karena aku tahu betul seberapa besar pengorbanan mu untuk dia. Tolong jaga dia. Aku

akan merestui kalian, aku akan menganggap kamu sebagai menantu ku nantinya.”

“Benarkah yang kamu katakan tadi?”

“Iya, Je. Cepat cari dia dan ungkapkan semua isi hati kamu.”

“Baiklah, Bel. Namun, sekarang akupun tidak tahu dia dimana. Aku mencari nya

kemanapun tetap dia tidak ku temukan. Nomor nya juga ganti.”

“Dia sekarang berada di sebuah desa kecil milik neneknya. Temui dia di desa

“Baiklah, Bel. Besok pagi aku akan segera menjemputnya.”

Malam pun berlalu dengan cepatnya, pagi ini aku bergegas untuk menemui Anindya

dan menjelaskan semuanya. Ku tempuh perjalan ini sekitar tiga jam lamanya. Jalan nya yang

berliku serta bergelombang mempersulit perjalanan ku. Setibanya di desa kecil ini, aku segera

mencari alamat rumah yang Belani berikan semalam kepada ku. Aku bertanya pada salah

seorang warga, dan diantarkan nya aku ke sebuah rumah. Nampak jelas bangunan nya yang

indah dengan dekorasi yang apik membuat kesan asri rumah itu.

“Wa’alaikum salam.” (terdengar si empunya rumah berlari sambil menjawab salam)

“Jenar, untuk apa kamu kesini? Skenario apa lagi yang akan kamu tontonkan kepada

“Dengar dulu Aninya, aku akan menjelaskan semuanya kepada mu.”

“Cukup, Jenar aku sudah tidak butuh penjelasan mu.”

Ku raih tangan Anindya dan ku pegang.

“Memang benar aku mempunyai masa lalu dengan Ibu tiri mu, Belani. Namun

sekarang aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun ke dia.”

“Tapi niat awal kamu mengenalku hanya untuk balas dendam kan ke Dia?”

“Iya, memang benar niat awalku mendekati mu hanya untuk membalaskan dendam ku

ke Belani, namun seiring berjalan nya waktu, “

“Seiring berjalan nya waktu kamu telah berhasil mendekati Dia lagi dan membuangku

“Bukan begitu Anindya. Seiring berjalan nya waktu aku mulai merasa nyaman jika

berada disamping mu. Ada keinginan untuk setiap hari bisa mengenalmu lebih jauh.

Kamu istimewa. Kamu berbeda dari wanita-wanita lainnya. Dan aku mulai

menyayangimu, aku ingin selalu berada disamping mu untuk menjagamu. Karena aku

Anindya tak mampu menyembunyikan raut kebahagiaannya. Awalnya

Anindya ragu dengan perasaannya, namun setelah mengetahui Jenar begitu

menyayanginya dia semakin yakin dengan perasaannya. Anindya memutuskan untuk

percaya dan ingin bersama dengan Jenar.

“Sebenarnya cintamu tidaklah bertepuk sebelah tangan.” (sambil tersenyum manis dan

menerima pelukan hangat dari Jenar)

Rasanya tak ingin sedikitpun waktu kulewati tanpanya. Mendengar tawanya adalah

kebahagiaan terbesar yang kurasakan. Seiring berjalannya waktu aku semakin

mengenalnya, semakin besar rasa keinginan ku untuk melindunginya.

Hari-hari kulewati dengan Anindya, kuhabiskan waktu ku bersamanya.

Nivia (Prodi PBI)

Antara Suara dan Neraka

Cerpen


“Sakit, sakit, sakit”, rintihan suaraku terus menggelegar di tempat yang sempit ini, gelap,

kotor dan menjijijkan. Dibarengi dengan hentakan pecut dari seseorang yang belum pernah aku lihat

sebelumnya. Dia nampak  ganas, hitam kelam, kekar dan beringas. Aku tak tahu siapa sebenarnya

makhluk yang keji itu. berani sekali dia mencambuk tubuhku hingga luka seperti ini. diriku serasa

ingin memberontak dengan keadaan ini. namun tubuhku sulit untuk memberontaknya, aku hanya

lesu menerima semua keadaan. “Hei manusia, aku tanya sekali lagi siapa Tuhanmu?”, tanyanya

kepadaku. sedari tadi dia hanya mencambuk tubuhku karena tidak bisa menjawab pertanyaan-

pertanyaan yang dilontarkanya padaku. “Tuhan?? Aku tidak tahu apa itu Tuhan? Lagian buat apa kau

bertanya padaku siapa itu Tuhan? Apakah itu penting?”. Kali ini pecutannya semakin keras, aku tak

bisa menahan tangisku.

“Siapa Nabimu?” Dia bertanya lagi padaku dengan wajah yang ganas dan tak bersahabat.

Tapi lagi-lagi pertanyaannya membuatku menjadi takut, aku takut sebuah cambukan menghantam

tubuhku lagi karena tidak bisa menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba lidahku memaksaku berkata,

“Aku tidak tahu, lagian kenapa kamu bertanya padaku seperti itu? Tidak adakah pertanyaan yang

lebih mudah dari itu?? Mungkin kau bisa bertanya padaku berapa hartaku, kekayaanku di dunia atau

mungkin kau bisa tanya sebagus apa suara menyanyiku?? Dengan senang hati aku akan

menjawabnya dan mungkin saja kamu akan kagum padaku.” Lagi-lagi pecutan kerasnya menerjang

tubuh mungilku.

…………................................................................................

“Gubrag!”

Aku sangat benci dengan garis takdir yang sudah Allah tetapkan untukku. Untuk apa Tuhan

menciptakanku? sedangkan aku hanya ditakdirkan untuk menyandang predikat BODOH dari semua

orang yang mengenalku . Bahkan tak sedkit orang yang sangat membenci dan menjauhi diriku.

Begitu pula dengan orang tua kandungku. Dia sangat membenciku dibanding dengan fauzan.adik

kandungku, dia selalu membanding-bandingkan kepandaianku dengan kepandaiannya. sebab itulah

aku menjadi sangat benci dan muak pada  fauzan,adikku. Kemana-mana orang tuaku pergi,

fauzanlah yang selalu diajaknya, sedangkan aku hanya disuruh jaga rumah untuk belajar, cukup. Aku

masih ingat dengan kejadian kemarin pagi, saat ayahku dengan gerang memukulku setelah

pengambilan nilai raport semester 1.

“Dasar anak bodoh, kenapa nilai-nilaimu memalukan seperti ini? Lihat, hanya satu nilai

pelajaran saja yang tidak merah, dan yang lainnya, merah semuanya... Apa kau tak punya malu

dengan adikmu? Dia peringkat 1 di kelasnya, sedangkan kamu?? peringkat terakhir, huu bodoh....!

ayah malu punya anak seperti kamu Rozak ”, hardik ayahku. Tidak heran kalau ayah dan ibu akan

marah besar ketika melihat nilaiku. Nilaiku semuanya merah, kecuali nilai kesenian saja  yang cukup

menonjol bagus.beginilah, Ayah selalu memukulku ketika melihat nilaiku. Kali ini ayah tidak hanya

memukulku, tapi uang jajankupun juga dikurangi, sedang uang jajan adikku malah ditambah. Aku

jadi semakin benci sekali dengan adikku.

“Maafkan aku, Ayah,,,” kataku.

“Pokoknya, kalau sampai nilaimu seperti ini lagi, Ayah tidak akan memaafkanmu”.

Hah.. terlihat di pojok ruangan depan, fauzan yang sedari tadi sedang melihatku dengan

canggung, dia terlihat mengasihi diriku. Ketika ayah meninggalkanku, fauzan menghampiriku dengan

penuh iba “Kakak sabar saja ya, maafkan perilaku Ayah yang tadi”, kata fauzan lugu.  Kutinggalakan

dia sendirian, kulempar senyum kebencian padanya, dan aku pun lebih memilih mengurung diri di

kamar. Sambil memetik gitar dan menyayikan beberapa lagu. ya karena hanya dengan menyanyi

suasana menjadi tenang dan damai.

....................................................

Tibalah hari pertama aku masuk sekolah setelah liburan panjang semester 1 ini . Namun, kali

ini ayah tidak bisa mengantarkan aku dan fauzan untuk berangkat sekolah. Dan akupun harus

berangkat ke sekolah bersama dengannya, kebetulan sekolahku dengannya sama, yang

membedakan hanya tingkatannya saja. Aku kelas 6 SD, sedangkan dia masih kelas 4 SD. Sebenarnya

aku malas satu sekolah dengannya,namun ini semua kemauan orang tuaku. Supaya aku bisa

mengawasi fauzan di sekolah.

Di perjalanan menuju sekolah, aku hanya bernyanyi-nyayi sendiri ketimbang berbicara dengan

fauzan.

”Kakak kok diam terus ketika fauzan ngajak bicara”, katanya lugu.

“Terserah kakak dong”, jawabku singkat sembari berlari meninggalkannya. Aku berlari menuju

gerbang sekolah yang sudah terlihat di sana. Aku tidak mempedulikan nasib fauzan. Yang aku

pikirkan hanya cepat-cepat sampai gerbang sekolah dan menjauh darinya. “Akhirnya sampai

juga....”, batinku. Aku mencoba melihat fauzan kebelakang, namun sayat-sayat mataku tertuju pada

sebuah kerumunan. Setelah aku lihat, dan ternyata itu fauzan,adikku.

Ternyata nasib baik tidak menimpa adikku, ketika dia mau mengejarku, dia terjatuh di

tengah jalan, dan saat itulah ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang, dan akhirnya dengan

cepat mobil itu menyambar tubuh fauzan dan dia pun terpental jauh dari mobil itu.

fauzan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh warga setempat, nafasnya masih tersengal-

sengal. Ayah dan ibu belum juga datang, hanya aku yang menemani fauzan di mobil ambulance.

Tiba-tiba saja hati kecilku merasa terbuka dan iba, aku merasa sangat kasihan dengan adikku, baru

kali ini aku bisa sayang fauzan. Ya, baru kali ini. Air matakupun semakin menjadi jadi  saat melihat

darah yang mengalir di dahi fauzan.

“Kak rozaq.. Fauzan sangat sayang sama kakak”, katanya.

“Kakak juga kok, Zan”. kataku paruh.

“Maafkan Fauzan  ya kak, jika selama ini Fauzan belum bisa menjadi adik yang baik buat kakak”.

Tubuhku kaku, wajahku ikut pasi. Mobil ambulance tetap melaju kencang, kira-kira 7 menit lagi akan

sampai di rumah sakit.

“Kakak,,, bolehkah Fauzan  berpesan pada kakak..”, katanya pasrah.

“Iya, silahkan Fauzan”, tanganku masih berpegangan dengan tangannya, dan semakin kuat aku

memegangnya.

“Sejak dulu Fauzan tahu, nilai kakak selalu mengecewakan ayah dan ibu. Dan di situ, Fauzan sendiri

kadang bisa terharu pada perjuangan kakak untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Fauzan tahu kok

kakak sering bangun malam, sholat tahajjud, setelah itu belajar sampai Subuh. Fauzan tau itu kak,

tapi sayangnya, Allah selalu berkehendak lain, nilai kakak selalu saja jelek, hingga ayah, ibu, dan

semua orang menjauhi kakak”.

Suaranya paruh, darah masih tetap membasahi tubuh fauzan yang masih terbilang mungil.

Matanya terlihat menahan air mata untuk jatuh, sedangkan aku, air mataku terpancar deras tak

terbendung. Aku salut dengan adikku, aku baru sadar bahwa selama ini adikku selalu

memperhatikan aktifitasku.

“Namun di satu sisi, disadari atau tidak, sebenarnya bakat kakak itu tidak di bidang mata pelajaran,

tapi bakat kakak itu di suara emas kakak”. Katanya sambil tersenyum kecil.

“Suara kakak itu hebat, namun kakak tidak pernah berani menunjukan suara kakak di depan orang

lain, hanya kakak sendiri yang bisa menikmati suara kakak. Nyatanya, nilai kesenian kakak kemarin

bagus kan? Dan tidak merah sendiri! Itulah sebabnya, ternyata Allah memberikan bakat kakak itu

pada suara kakak, bukan di bidang yang lain. Jadi Fauzan berpesan, terus kembangkan bakat kakak,

buktikan kalau kakak punya bakat dan kakak bisa sukses dengan suara ka...kak...........”, suara fauzan

putus, aku semakin khawatir, matanya tidak berkedip, nafasnya yang tadinya tersendal-sendal kini

tidak ada lagi nafasnya. Tubuhnya kaku, jantungnya tak berdetak sedikitpun. Ya Allah, kenapa fauzan

meninggalkanku. Kenapa dia meninggalkanku di saat aku bisa menyayanginya sebagai adik

kandungku? Ya, ini semua salahku, salahku karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik.

..................................................

Pagi ini aku berangkat sekolah sendirian. sejak kejadian meninggalnya adikku kemarin,  ayah

tak mau lagi mengantarku pergi ke sekolah. Di saat seperti inilah aku selalu merindukan

fauzan,adikku. Aku merenung, kenapa dulu aku membencinya? Bodoh sekali diriku. ”Fauzan, kakak

kangen sekali sama kamu”, gumamku. Sesampainya di sekolah, terdengar alunan suara musik yang

membahana di halaman sekolah dan sekitarnya. Aku menghampirinya, dan kudekati temanku.

“Ahmad, ada acara apa ini, kok rame banget?!”, tanyaku pada Ahmad. Dia teman sebangkuku.

Dialah satu-satunya orang yang mau berteman denganku.

“Oh, ini ada lomba menyanyi antar siswa dan guru”, jawabnya, sambil mempersilahkan aku duduk

bersanding dengannya.

“Oke anak-anak, bagaimana penampilan bagas dari kelas 5A tadi? Bagus tidak? Tepuk tangannya

dong!”, kata pemandu acara dalam lomba itu. “Oke langsung saja kita panggilkan peserta

selanjutnya adalah Rozak dari kelas 6B”, katanya.

Aku bingung, kenapa bisa aku? padahal aku belum pernah mendaftarkan diri sebagai peserta lomba

ini ? Tahu acara ini pun baru saja tadi? Terus siapa yang mendaftarkan aku?.

“Tidak usah kaget kawan,sebenarnya sebelum adikmu fauzan meninggal, dia memintaku

menemaninya untuk mendaftarkan dirimu untuk ikut lomba ini, karena dia ingin sekali membantu

kamu untuk menemukan bakat aslimu. Buruan sana maju!jangan kecewakan keinginan

adikmu,fauzan”.

“Adikku???...”, hatiku terasa remuk redam, rasanya air mataku tak bisa terbendung. Segitunya

adikku memperhatikanku. Maafkan kakakmu ini, Fauzan.

“Kamu pasti bisa!”, suara Ahmad membangunkan lamunanku.

Aku naik ke atas panggung dengan degub jantung yang menegangkan, keringat-keringat

berseluncuran membasahi tubuhku. dan lihatlah...! Banyak sekali yang meremehkan aku, sepertinya

mereka semua memandangku dengan sebelah mata. Tapi tidak apalah, semua demi Fauzan apapun

akan kulakukan. Akhirnya, kulantunkan sebuah lagu kesukaan Fauzan yang sering ia nyanyikan di

saat senja tiba.

“Lagu ini berjudul, merindukanmu”. Dan lagu ini saya persembahkan untuk adik saya tercinta,

Fauzan”.

…..............................…

Beberapa tahun kemudian, akhirnya aku bisa memperoleh kebahagiaan dalam hidupku,

setelah berbanting-banting peluh, aku dinobatkan menjadi seorang penyayi yang bisa go

international. Siapa juga yang tidak senang dengan predikat itu. Ternyata suaraku bisa diterima

dengan baik oleh masyarakat, hidupku pun dipenuhi dengan kegiatan jadwal manggung. Hingga

akupun lalai akan perintah agama. Kehidupanku pun sangat mewah.dalam waktu sebulan, bisa saja

aku mendapatkan bayaran sebanyak 100 juta, atau malah kalau lagi ada manggung di luar bisa saja

sampai 2 Milyar perbulan. Sekarang hidupku serba terpenuhi. Wanita-wanita pun sangat mudah aku

dapatkan. Sedangkan nasib orang tuaku? Ah, aku sudah tidak mau merajuk pada mereka. Aku sudah

tidak menghiraukan mereka, entah mereka masih hidup atau sudah mati, tidak peduli aku pada

mereka. 1 tahun yang lalu mereka mencariku dan memohon-mohon padaku untuk pulang, tapi buat

apa aku kembali? Dulu mereka memperlakukan diriku sedemikian rupa, bahkan mereka sendiri yang

berani mengusirku dari rumah waktu masih SMA. Sedangkan sekarang? Hidupku sudah bahagia,

dengan harta, dengan segalanya. Sesekali setelah manggung usai, tak ketinggalan diriku berpesta

pesta dengan beberapa botol minuman berakohol. Ya,.. buat merefreskan pikiranku sejenak.

“Roy, buruan nanti pesawatnya berangkat jam 09.00”, kata managerku.

“Siap”, kataku.

Oh ya, perlu diketahui bahwa namaku bukan lagi Rozak, namun semenjak menjadi populer, namaku

berubah menjadi Roy, sebuah nama yang sangat keren tentunya. Kali ini kebetulan jadwal

manggungku di Amerika. Ya, beginilah kalau sudah menjadi orang sukses.

Pesawatpun berangkat, melaju sangat kencang seperti roket. Aku sudah tidak sabar

menginjak tanah Amerika lagi. 2 tahun yang lalu aku juga pernah manggung di Amerika, dan

sekarang ingin rasanya segera berjumpa dengan penggemarku di sana lagi dan bisa merayakan pesta

di sana. Di tengah-tengah perjalanan, sepertinya pesawat yang aku naiki ada sedikit kerusakan pada

mesinnya, aku merasa takut. Perlahan pesawat terbang tanpa keseimbangan, dan

akhirnya........................

...................................................................

Sedang di mana diriku? Kenapa orang tuaku dan semuanya menangisiku. Loh, kenapa bunga-

bunga tersebar di tempat ini, acara apaan ini, kenapa yang ada hanya suara senandung ayat-ayat

suci al-Qur’an. Aku ingin memberontak, kenapa tidak laguku saja yang dilantunkan?

“Yang sabar ya, Pak, Buk.. biarkan dia tenang bersama adiknya di surga”, kata sesorang untuk

menghibur orang tuaku.

Air mataku tak terbendung lagi. Aku baru sadar, ternyata aku sudah meninggal dunia dan

tentunya aku sudah meninggalkan kemewahan dunia ini. Aku juga tak ingat kenapa aku bisa

meninggal dunia? Ah, bibirku berusaha bertanya-tanya. Tapi percuma saja, langkah demi langkah,

jasadku disemayamkan di tempat yang mungil, gelap, jijik. Dan sedikit demi sedikit tubuhku

tertimbun dengan gelapnya tanah.

................................................................

Cambukan selalu mengenai tubuhku, belum ada pertanyaan dari orang itu yang bisa aku

jawab.

“Manusia apa-apaan kamu ini, pertanyaanku belum ada yang bisa kamu jawab. Sekarang aku tanya

lagi, apa agamamu? “ Lagi-lagi aku bingung, rasanya diriku ingin memprotes dengan semua ini.

“Aduh..... sakit tau... kenapa kamu tidak menyuruhku menyanyi saja, dari pada harus menjawab

pertanyaanmu yang tidak berguna itu?”, kataku dengan tegas. Namun, dia hanya tersenyum basi, ia

memberikanku cambukan yang semakin keras.

”Aduh.. kamu itu benar-benar tidak tahu siapa saya ya..! Bisa saja nanti saya membayar lebih pada

para bodyguardku untuk membalasmu, tunggu saja!”.

Aku terkejut dengan apa yang aku lihat di depan mataku, aku ingin meronta-ronta sejadi-

jadinya. Sehiliran api yang membara menerjang tubuhku. Namun di satu sisi aku bisa melihat jauh di

sana, di taman yang indah ada seorang bocah yang sedang bermanjakan diri dengan keindahan

taman itu. Ya, dia tak lain adalah Fauzan, adikku. Perlahan ia mendekatiku dan berkata padaku,

”Fauzan kecewa sekali dengan apa yang Kakak perbuat. Kesuksesan telah menipu kehidupan Kakak,

Fauzan kecewa, Kak”.

Fauzan meninggalkanku dengan jejak tangis yang mendalam. Dia terlihat sedih melihatku

begini. Aku jadi merasa bersalah dengan adikku, Fauzan. “Maafkan Kakak, Fauzan!”. Suara tangisku

meronta-ronta, rasanya aku ingin memeluk tubuh Fauzan. Meminta maaf atas kebodohanku selama

ini. ”Fauzan......” ucapku. Namun kobaran api selalu saja menyembur badanku, cambukan demi

cambukan pun semakin keras. Jujur aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini.[]

Goresan pena : Muhammad Rais Syakur

CERPEN "19"

19




“lah katanya kamu ulang tahun hari ini”

Dengan wajah kesal si Nana memelototi Aina karena kesal rencananya sudah

dibocorkan. Niatnya si Nana dan kawan-kawan ingin memberikan kejutan kepada

“aku berangkat kuliah dulu ya, Assalamuaalaikum” kata Anika.

“Walaikumsalam” seisi kos menjawab serentak.

Setibanya di kampus Anika menunggu dosen yang tak kunjung datang dan sampai

hujanpun turun ternyata dosennya tidak datang dan jam kuliah dinyatakan kosong.

Anika menunggu hujan reda bersama teman-temannya sambil berbincang-bincang

ceria membicarakan teman-temannya yang lain.

Karena hujan yang begitu lebat, area kampus lantai 2 tergenangi air hujan yang

disebabkan karena saluran air yang rusak sehingga air hujan masuk kedalam hall

“ceburin Anika ke air yuk dia kan lagi ulang tahun” Ika berbisik kepada teman-

Anika pun memberontak saat diseret menuju ke genangan air hujan yang ada di

hall lantai 2. Tetapi, teman-temannya tetap menyeret Anika dan diceburkan ke air

itu. Dan tidak lupa tas seisinya pun disembunyikan. Anika kewalahan saat

“kamprettttttttttttttttt, awas yaaaaaaaa” Anika mengancam teman-temannya.

“ha ha ha ha ha rasainnnnnnnn wlekkkk” Ika menyaut.

Anika kesal karena saat membuka tasnya dilihat hpnnya tidak ada di dalam tas.

Diapun marah kepada teman-temannya dan meminta untuk diantarkan pulang ke

kos. Sesampainya di kos dia membuka tasnya ternyata kunci kamarnya tidak ada

juga, Anika semakin kesal. Lalu, dia meminjam baju kepada teman kosnya karena

saat itu baju yang dipakainya basah kuyup akibat ulah teman-teman di kampus

dan ditambah kehujanan saat perjalan pulang ke kos. Dia menumpang di kamar

teman kos lainnya sambil menangis karena Anika ini memang anaknya terkenal

cengeng banget nget nget. Apa apa nangis disenggol dikit nangis, pokoknya

“An an itu ada teman kamu di bawah nyariin kamu” kata Ina teman kos Anika.

“kasian lho An mereka hujan-hujanan cuma buat kamu”

“An turun dulu gih, mereka mau nganterin kunci kamar sama hp kamu”

“tolong ambilin aja aku males turun” Anika menyuruh Ina.

Anika masih menangis. Sedangkan, teman-temannya masih terus berteriak

meminta maaf dan meminta dia turun untuk menemuiya. Anika tidak mau turun

karena terlanjur sakit hati sudah dikerjain dan malu sudah menangis serta sudah

mempunyai pikiran tidak enak karena takut dikerjain lagi di bawah. Maka dari itu

Anika tidak mau turun menemui teman-temannya.

Semua teman yang ada di kosnya turut membujuk agar dia mau turun tapi Anika

tetap tidak mau turun. Setelah itu, tidak lama kemudian teman sekamar Anika

datang membawa kunci kamarnya. Anika diminta untuk ke kamar tetapi dia malu

karena sudah menangis dan tidak mau mukanya yang kaya anak kecil itu dilihat

“ayo an ke kamar dulu istirahat dan ganti baju pasti kamu capek kan” kata teman

Akhirnya Anika mau ke kamar dan saat membuka pintunya, di kamar sudah

banyak hiasan yang bertuliskan “HAPPY B’DAY” di temboknya yang dibuat oleh

teman sekamarnya dan dibawakan kue yang bergambarkan kepala sapi yang lucu

karena Anika memang suka dengan sapi. Anika sangat malu dan tidak

menghiraukan teman kuliahnya yang sedari tadi menunggu di bawah sambil

hujan-hujanan. Kemudian, mereka pulang karena sudah kesal kembali kepada

Anika dan teman-teman kosnya berfoto-foto untuk dijadikan kenang-kenangan di

ulang tahunnya yang ke-19 ini. Dia sudah berhenti menangis. Lalu, teman-teman

kosnya diajak keluar mencari makan bersama dan dibayarinya. Sedangkan,

sampai beberapa hari kemudian teman-teman kuliah Anika masih marah kepada

dia. Anikapun tidak bersama mereka lagi saat ini melainkan lebih memilih

bergabung dengan teman yang lainnya.



Cerpen Karangan : Adik Nizroah PBI’14

Fb : www.facebook.com/adiknizroah

Monday, 1 February 2016

Panorama Alam

Aku belajar dari suara – suara burung yang indah

Gemercik air yang bening

Dan di sela – sela batu pegunungan

Aku belajar dari bunga – bunga pesta warna

Yang selalu mengirimkan aroma kesejukan

Aku belajar dari manik – manik batu permata

Yang meski terendam lumpur  tapi masih dapat memancarkan kilaunya


Ya.. aku juga belajar dari keramahan semut yang mengucapkan salam ketika berjumpa dengan  saudaranya

Serta bergotong royong  dalam bekerja

Aku juga belajar dari persaudaraan kekal dari laut dan pantainya antara pohon dengan tanah

Aku juga belajar dari kearifan alam semesta


Dalam diamanku,  aku bersujud kepada-Nya

 Tuhan, betapa indah alammu

Yang mampu membuat hambamu tunduk pada-Mu

Betapa dunia ini selalu berkembang  dan  terbentang menjadi guru

Guru alam yang mengajarkan aku untuk bersyukur



Laras Pratiwi
PBI’13

JIKA

Jika lelah ini adalah jalan menuju keindahan

Mengapa justru keluh kesah yang selalu mengiringinya

Bukankah ikhlas yang harus menemaninya

Jika do’a adalah teman kesuksesan

Mengapa batin tak jalan beringan

Jika ragu ini akan menjadi kepastian pada akhirnya

Mengapa malas yang merajai diri

Padahal tangga kesuksesan telah siap tuk dipijaki

Semua ini bagai duri dalam diri sendiri

Kita tahu apa yang menjadi penghalang diri

Tetapi mengapa justru penghalang yang menjadi pemenang




Desta Dara Dwi 
PBI’14




Karya Puisi

Nafsu Ku

Demi Masa…

Bawakan padaku kenangan itu

Akan kugenggam erat dalam kepalanku ini

Demi Masa…

Bawakan padaku kesetian-kesetianmu dulu

Akan aku simpan dalam pikiran terdalamku

Demi Masa…

Berikan padaku sebuah pemutar waktu

Agar aku kembali pada masa jayaku

Demi Masa…

Berikan aku Hidayahmu Yaa Rabb…

Agar aku selalu berada dalam jalan lurusmu 




Yuda Candri Adinata

      MTK'13

Ads Inside Post